Kepulauan Indonesia yang luas dihadapi oleh sebuah paradoks: meskipun paparan sinar matahari melimpah, negara ini masih berjuang dengan akses terbatas terhadap energi bersih yang berkelanjutan.
Walaupun kaya akan sumber daya alam, Indonesia tetap sangat bergantung pada bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak bumi. Ketergantungan ini mempercepat peningkatan kadar karbon dioksida dan menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan akibat polusi udara.
Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah Indonesia menargetkan pencapaian Net Zero Carbon pada 2060. Pilar utama dari strategi ini adalah percepatan adopsi energi terbarukan.
Secara geografis, Indonesia memiliki posisi strategis untuk memanfaatkan energi surya dengan potensi kapasitas mencapai 500 GW. Namun, hingga tahun 2022, baru sebagian kecil dari potensi tersebut yang berhasil dimanfaatkan.
Partisipasi aktif dari sektor swasta juga kerap diperlukan untuk menutup celah ini. Xurya, perusahaan portofolio East Ventures, melaksanakan pernah ini dengan mengakselerasi penggunaan panel surya bagi pelaku bisnis di kawasan ini.
Evolusi perjalanan keberlanjutan Xurya
Didirikan pada tahun 2018 oleh Eka Himawan, Edwin Widjonarko, and Philip Effendy, Xurya telah muncul sebagai pemimpin dalam industri energi terbarukan di Indonesia.
Para founder menggabungkan keahlian mereka—latar belakang Eka dalam investasi teknologi tenaga surya serta pengalaman riset Edwin—untuk meluncurkan usaha ini pada tahun 2017 ketika kondisi pasar dinilai telah siap. Philip kemudian bergabung untuk memperkuat sisi operasional bisnis tersebut.
Xurya menyediakan solusi komprehensif mulai dari pembiayaan dan desain teknik hingga instalasi serta operasional panel surya. Dampak yang telah dihasilkan hingga saat ini meliputi:
- Kapasitas: Mengembangkan lebih dari 100 MW tenaga surya melalui hampir 200 proyek.
- Aksesibilitas: Memelopori model sewa panel surya tanpa biaya investasi awal, yang memungkinkan lebih dari 100 perusahaan beralih ke energi bersih tanpa hambatan modal utama.
- Ekosistem: Bermitra dengan lebih dari 150 perusahaan EPC (Engineering, Procurement, and Construction) lokal dan turut mendirikan Solar Academy Indonesia untuk memberdayakan talenta lokal.
Inovasi tetap menjadi inti dari operasional mereka. Xurya merupakan pengadopsi awal teknologi Internet of Things (IoT) untuk pemantauan jarak jauh dan saat ini sedang mengintegrasikan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) untuk mendiagnosis kesalahan sistem serta mengoptimalkan kinerja.
Hal ini memastikan sistem energi surya mereka tetap andal dan efisien sepanjang masa pakainya.
Skalabilitas berkelanjutan dengan ketangkasan bisnis
Jalan menuju skalabilitas energi terbarukan pada awalnya diwarnai dengan skeptisisme. Pada tahun 2018, kesadaran pasar masih rendah; banyak pelaku bisnis menganggap panel surya sebagai teknologi asing yang mahal dan lebih memprioritaskan listrik konvensional untuk kebutuhan industri.
Alih-alih mundur, Xurya fokus mengedukasi pasar dan menonjolkan keuntungan finansial dari model sewa mereka. Saat ini, proyek-proyek mereka menghasilkan sekitar 164 juta kWh energi bersih setiap tahunnya—setara dengan pengurangan lebih dari 146.000 ton emisi CO2 per tahun.
Menatap masa depan, Xurya mulai mendiversifikasi jangkauannya:
- Integrasi jaringan: Berencana untuk menyalurkan listrik tenaga surya ke jaringan listrik nasional (PLN).
- Solusi off-grid: Mengimplementasikan solusi mikro-grid di lokasi pertambangan dan resor untuk menggantikan hingga 80% penggunaan diesel dengan energi surya.
Membuka jalan bagi inovasi iklim di masa depan
Momentum untuk energi berkelanjutan terus berkembang melalui inisiatif pembangunan ekosistem seperti Climate Impact Innovations Challenge (CIIC).
Menyusul kesuksesan program tahun 2025 yang menonjolkan tema Transisi Energi, tantangan ini terus memberdayakan inovator teknologi untuk menguji coba solusi ekologis di Indonesia.
“Terdapat peluang yang sangat besar di sini. Banyak pihak menilai perubahan iklim sebagai tantangan terbesar saat ini—namun saya memilih untuk melihatnya sebagai peluang yang hadir sekali seumur hidup,” ucap Eka.
“Daripada melihatnya sebagai perubahan iklim, mari kita pandang sebagai ‘peluang iklim.’ Ini adalah momentum krusial bagi kita untuk merevisi dampak emisi yang telah kita hasilkan selama 70 hingga 100 tahun terakhir. Jika kita menunda tindakan, kesempatan serupa mungkin tidak akan terulang.”
Dengan membina ekosistem yang mendukung bagi energi terbarukan, Xurya bersama para mitranya memastikan bahwa transisi menuju masa depan yang lebih hijau memberikan dampak lingkungan dan ekonomi yang signifikan.
Pelajari lebih lanjut tentang Climate Impact Innovations Challenge di sini.






