Investasi startup fundamental
East Ventures

Share

25 Juni 2024

Insights

Masih tech winter, pendanaan ke startup fundamental kuat

Memasuki tengah semester 2024, investor masih berhati-hati dalam melakukan pendanaan ke startup. Faktor tech winter yang masih berlanjut hingga, memengaruhi sikap para investor tersebut.

Sekadar informasi, tech winter adalah periode penurunan investasi di industri teknologi termasuk startup. Sedikit menengok ke belakang, sektor digital di Indonesia memang memasuki siklus baru. Sebelumnya, sepanjang 2009 hingga 2021, valuasi startup digital naik dan mencapai puncak kejayaan (peak point). Saat itu, likuiditas berlimpah.

Namun, tahun 2022 dan 2023, sektor digital memasuki babak baru, terjadi tren kenaikan suku bunga bertubi-tubi di Amerika Serikat (AS). Dampaknya, inasi susah terkontrol. Belum lagi, tekanan geopolitik yang memanas dan pergantian kepemimpinan di beberapa negara membuat ekosistem industri teknologi secara global sedang menghadapi tantangan.

Roderick Purwana, Managing Partner East Ventures, mengatakan, kondisi ketidakpastian dan berbagai tantangan tersebut membuat perusahaan perlu berfokus dan berhati-hati. Sebab, uang yang dulunya murah sekarang jadi mahal.

Memasuki tengah semester tahun ini, tech winter masih berlanjut. Mengutip analisis data yang Crunchbase lakukan, kuartal I 2024 menjadi rekor pendanaan startup global terendah kedua sejak awal tahun 2018.

Tercatat, pendanaan ventura global menjadi US$66 miliar di kuartal I 2024. Angka ini memang naik 6% secara kuartalan. Tapi, turun dalam hingga 20% dari tahun ke tahun.

Founding Partner GDP Venture Antonny Liem membeberkan, tensi geopolitik menjadi salah satu penyebab periode tech winter masih berlanjut. Sentimen dollar AS yang terus menguat dan belum ada perubahan kebijakan suku bunga The Fed untuk turun, juga semakin membuat para investor startup berhati-hati.

Belum lagi, faktor yang membuat ketidakpastian ekonomi juga datang dari Pemilu AS di akhir tahun ini dan turut menambah sentimen akan ketidakpastian ekonomi global.

Saat ini, “Industri teknologi sedang mencoba untuk pulih,” ungkap Antonny.

Mohammed Alabsi, seorang angel investor aktif dan advisor untuk sejumlah startup serta Chief Product & Technology Officer Hypefast, menyebutkan, investor memang menunjukkan kehati- hatian dalam mengucurkan modal ke startup di tahun ini. Faktor-faktor yang berkontribusi pada pendekatan yang hati-hati tersebut antara lain kenaikan suku bunga, ketakutan akan potensi resesi, dan konik geopolitik. Selain itu, sektor-sektor teknologi yang fokus pada konsumen, menghadapi lebih banyak kehati-hatian dari para investor.

Strategi investasi

Di tengah kondisi geopolitik dan ekonomi global yang masih menantang hingga membuat tech winter masih terjadi, bukan berarti investor berhenti melakukan pendanaan.

Antonny menyatakan, GDP Venture Builder dengan fokus investasi jangka panjang, sedang terus berupaya membantu portofolio startup mereka yang memiliki potensi bisnis kuat. Dengan begitu, bisa bertahan di masa tech winter saat ini.

“GDP Venture Builder tidak memiliki target pendanaan pada periode tertentu, dan saat ini kami fokus mengembangkan startup yang ada di portofolio kami,” kata Antonny.

Sementara, menurut Antonny, jika ada kewajiban bagi perusahaan pendanaan baru yang harus melakukan funding, maka mereka akan melakukan investasi secara hati-hati. Sebaliknya, jika perusahaan pendanaan tersebut masih memiliki waktu dua hingga tiga tahun ke depan dan tidak wajib memberikan pendanaan, ada kemungkinan mereka akan wait and see, tidak terburu- buru melakukan pendanaan saat ini.

Segendang sepenarian, Roderick bilang, meski tech winter masih melanda, tidak berarti tak ada pendanaan yang akan investor berikan. “Investor tetap akan mencari target investasi yang baik, selama startup bisa menunjukkan value proposition yang jelas dan disruptif, pasti mereka dapat mendapatkan pendanaan,” sebutnya, yang optimistis dengan potensi inovasi ekosistem startup dan digital yang besar di Indonesia dan juga Asia Tenggara.

Sebagai venture capital yang terbuka pada seluruh sektor (sector-agnostic), East Ventures tetap aktif memberikan investasi ke startup berbasis teknologi di seluruh sektor. “Selama ada founder yang bagus, pasti akan kami berikan investasi,” tegas Roderick.

Sejauh ini, East Ventures melihat, semakin banyak pengusaha muda yang memiliki semangat besar untuk menyelesaikan permasalahan di Indonesia. Krisis-krisis yang terjadi menjadi tes tekanan atawa stress test bagi para founder.

Alhasil, bagi founder yang bisa beradaptasi, resilient, dan mampu fokus pada core strength, menjelma menjadi pendiri yang tahan banting serta bisa mempertahankan bisnisnya di tengah badai ini.

“Di sinilah kami melihat ekosistem startup termasuk para founder di Indonesia semakin mature,” kata Roderick.

Sebab, bagaimanapun, ke depan masih akan banyak tantangan dan krisis yang tidak bisa diprediksi. Tetapi, East Ventures yakin, krisis juga memberikan peluang untuk startup bisa bertumbuh atau mengoreksi aspek yang perlu dibenahi, selama founder tetap resilient dan prudent.

Antonny menambahkan, saat ini investor juga cenderung menginginkan startup yang memiliki fundamental bisnis yang kuat dan bisa mencapai titik impas atau break even point (BEP) lebih cepat.

Sebaliknya, sebelum tech winter melanda, para pebisnis dan investor fokus memperbesar market share dan skala bisnis. Setelah itu, baru mengharapkan akan terjadi BEP.

“Jika bisnis sudah cukup matang dan dapat menghasilkan prot, secara tidak langsung mereka ke depan akan lebih mudah mendapatkan pendanaan,” ungkap Antonny.

Potensi pertumbuhan startup di Indonesia pun besar. Menurut Alabsi, ukuran pasar yang besar dan penggunaan internet yang luas di Indonesia, mendukung bisnis startup.

“Negara ini adalah rumah bagi lebih dari 2.300 startup, termasuk sembilan startup unicorn dan dua startup decacorn,” beber Alabsi.

Tapi, memang, perlambatan ekonomi global menutupi pertumbuhan pesat yang sebelumnya terjadi. Startup di Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan lain, termasuk banyaknya birokrasi, target audiens yang terbatas, dan konsumen yang ikut-ikutan.

Selain itu, ketidakpastian pasar penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) pada tahun ini dan kesulitan dalam penggalangan dana startup menunjukkan, pemutusan hubungan kerja (PHK) kemungkinan akan terus berlanjut di masa mendatang. Gelombang PHK yang terjadi belakangan ini tidak hanya menyoroti individu yang terdampak, tetapi juga seluruh ekosistem startup di Indonesia.

Sektor menarik

Meski secara keseluruhan investor mengambil sikap hati-hati, Alabsi menuturkan, sektor-sektor tertentu ada yang telah menarik investasi dalam jumlah besar, yakni startup di bidang kecerdasan buatan alias articial intelligence (AI), perawatan kesehatan, energi, dan robotika. Bahkan, Alabsi mencatat, sektor AI dan layanan kesehatan memimpin pendanaan investasi secara global selama kuartal I 2024 lalu.

Sedang sektor lain yang Alabsi perkirakan akan tumbuh pesat antara lain, logistik otomatis, rantai pasok berbasis digital, platform parenting, manufaktur sepeda motor listrik, perdagangan sosial, dan merek yang mendukung teknologi.

Di tahun ini, Roderick mengatakan, seharusnya aktivitas pendanaan startup sudah mulai membaik, meski tidak bisa langsung kembali ke masa kejayaan. Para investor pun yang memiliki ketertarikan masing-masing terhadap sektor teknologi akan tetap berinvestasi.

Dari sisi East Ventures, Roderick melihat, banyak prospek investasi di berbagai sektor, termasuk kesehatan, rantai pasok, teknologi iklim seperti transisi energi dan proyek terkait iklim. Tapi, tetap, East Ventures akan menanamkan investasi secara agnostik.

“Kami tetap terbuka dan melakukan investasi pada startup atau perusahaan berbasis teknologi di seluruh sektor,” kata Roderick.

Informasi saja, di 2023, East Ventures berhasil menyelesaikan 63 deal dan menjaring 29 perusahaan portofolio baru serta menginvestasikan hampir US$80 juta ke perusahaan portofolio tahap awal (seed) dan lanjutan (growth).

Investasi tersebut tersebar di berbagai sektor, termasuk perusahaan pendukung e-commerce seperti e-commerce enabler, biotech, software as a service, kendaraan listrik, teknologi iklim, dan banyak lagi.


Artikel asli telah diterbitkan di Kontan Business Insight, 18 Juni 2024, dan Tabloid Kontan pada Kamis, 20 Juni 2024.

Masih tech winter, pendanaan ke startup fundamental kuat

Masih tech winter, pendanaan ke startup fundamental kuat