The panelists of the Women with Impact program held on 24 November 2022 at XenSpace, Jakarta: Elisa Suteja (Entrepreneur in Residence at East Ventures), Nelly Nurmalasari (Co-Founder and CEO of Pintarnya), Hillary Buntara (Experimenter at Xendit), and Melisa Irene (Partner at East Ventures
East Ventures

Share

30 November, 2022

Press Release

Menyalakan yang padam: Menerapkan pendekatan yang sehat dalam menghadapi burnout di tempat kerja

Setiap orang memiliki tanggung jawab dan ekspektasi yang harus dipenuhi, baik sebagai pemilik bisnis, pendiri startup, karyawan, orang tua, pelajar, atau banyak peran lainnya. Pasti ada saatnya kita mengalami kelelahan, baik secara fisik maupun emosional, yang melibatkan berkurangnya rasa pencapaian. Berdasarkan laporan Deloitte terbaru, berjudul “Women @ Work 2022: A Global Outlook”, laporan tersebut mengungkapkan bahwa 53% wanita mengatakan bahwa tingkat stres mereka lebih tinggi daripada tahun lalu, dan hampir setengahnya merasa kelelahan.

Berdasarkan temuan di mana perempuan lebih rentan terhadap burnout, East Ventures, perusahaan modal ventura terkemuka yang terbuka pada seluruh sektor (sector-agnostic) di Indonesia dan Asia Tenggara, memfasilitasi sesi diskusi dan networking melalui program pemberdayaan wanita, Women with Impact. Acara keempat ini diadakan pada tanggal 24 November untuk membantu para audiens memahami, mengidentifikasi, dan mengelola tekanan kerja yang mungkin muncul dalam kehidupan sehari-hari, terutama dari pengalaman beberapa perwakilan perempuan dari ekosistem startup dan teknologi.

Kami percaya terdapat banyak definisi dari burnout. Namun, akhir-akhir ini, istilah tersebut semakin banyak digunakan, setiap orang dapat memiliki interpretasi yang berbeda tentang stres dan kelelahan yang mereka alami. Bahkan penggunaannya semakin samar dan kurang akurat, karena setiap orang memiliki mekanisme yang berbeda untuk mengatasi tekanan pekerjaan dan kehidupan.

Sebagai Co-Founder dan Chief Executive Officer Pintarnya, platform digital terpadu untuk pekerja kerah biru di Indonesia, Nelly Nurmalasari mengilustrasikan burnout sebagai karet yang elastis. Meregangkan dan menarik karet merupakan suatu hal yang baik untuk dilakukan, tetapi hal yang perlu diperhatikan adalah untuk berhati-hati agar tidak merusak karetnya. Ketika karet tersebut rusak, maka karet tersebut kehilangan fungsinya. Penting untuk menangkap sinyal burnout dalam aktivitas kita sehari-hari, dan tidak ada gejala yang sama yang dimiliki setiap orang.

Berbagai posisi/peran yang berbeda dalam lingkungan kerja memiliki fungsi yang berbeda dalam mengelola burnout. Sebagai pemimpin yang pada umumnya memutuskan sebuah kebijakan, merupakan suatu hal yang penting untuk mendorong keterbukaan dan mempertimbangkan kebutuhan karyawan. Beberapa ketentuan dapat dibuat untuk mendukung hal ini, seperti melalui pertemuan 1-on-1 secara reguler untuk memahami keadaan dan kondisi karyawan.

“Sepertinya saya melihat beberapa founder di sini. disadari atau tidak, burnout bisa disebabkan oleh diri anda sendiri. Bahkan saya, misalnya, di Pintarnya. Terkadang, sebagai founder, kami bermimpi besar. Kami ingin A, B, C, D, dan saya terus memberi tahu tim saya, merupakan tugas saya untuk bermimpi besar karena jika tidak, kita tidak akan pergi kemana-mana. Tapi membuatnya secara eksplisit untuk “tantang saya” jika ini (ide) bukan hal yang benar. Itu penting,” kata Nelly.

Tidak semua perusahaan dan atasan memberikan kesempatan bagi Anda untuk angkat bicara. Apalagi dengan iklim pekerjaan saat ini, di mana pekerjaan merupakan hal yang penting karena sebagian orang hidup dari gaji ke gaji, sehingga meninggalkan pekerjaan bukanlah pilihan. Oleh karena itu, secara tidak langsung lingkungan kerja saat ini telah membentuk kita sebagai laki-laki dan perempuana yang selalu berkata “ya” dan takut untuk mengatakan tidak pada pekerjaan yang ditugaskan, meskipun berada posisi yang telah memiliki banyak pekerjaan, menurut Hillary Buntara, Experimenter Xendit. Di sinilah peran rekan kerja masuk, memastikan kabar serta ide untuk berbagi beban kerja sangat membantu untuk menciptakan sistem pendukung dalam mencegah satu sama lain dari kejenuhan.

Dari sudut pandang investor, Melisa Irene, Partner East Ventures, berbagi tentang pentingnya melakukan double clicking atau menyelami lebih dalam tentang bagaimana perasaan dan pikiran mengenai suatu masalah dalam mengelola kejenuhan. Ia menjelaskan bahwa banyak aspek yang dapat menyebabkan burnout, bahkan terkadang bisa terkait dengan hal-hal yang tidak terkait dengan pekerjaan. Dengan melakukan double clicking, kita dapat lebih memahami penyebab kejenuhan dan bagaimana sebagai pemimpin di perusahaan atau sebagai investor dapat membantu mengatasinya.

“Jadi menurut saya sebagai investor, peran yang coba kita mainkan adalah untuk bersikap empati dan bisa duduk bersama dalam memahami seperti apa sumber permasalahan yang mereka hadapi,” kata Melisa.

  • Women with Impact
  • Women with Impact - Speakers during Fireside Chat
  • Women with Impact - Speakers during Fireside Chat
  • Women with Impact at XenSpace by Xendit
  • Women with Impact at XenSpace by Xendit

Berikut adalah panduan yang dapat dengan mudah diterapkan dalam membangun lingkungan kerja yang lebih positif dan mengelola kejenuhan, yang tidak hanya dapat diikuti oleh pekerja perempuan tetapi juga para pekerja laki-laki

1. Menetapkan ekspektasi yang jelas

Tidak ada penerimaan bahwa pemimpin atau perusahaan Anda harus menurunkan standar untuk mencegah karyawan mereka mengalami stres. Namun, menetapkan ekspektasi secara jelas dapat berfungsi sebagai salah satu cara untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih bersahabat. 

2. Bangun kredibilitas Anda

Penting untuk memahami bahwa mengharapkan dukungan di tempat kerja tidaklah mudah, terutama jika Anda berada di tahap awal pada posisi baru. Membangun kredibilitas adalah fondasi karier Anda, dan perlu disadarai bahwa dukungan yang Anda terima tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan sudah menjadi keharusan. .

3. Istirahat 

Istirahat dengan waktu yang singkat bisa menjadi perubahan total bagi Anda dalam mendapatkan kembali semangat dan motivasi. Saat Anda bekerja keras untuk perusahaan, Anda harus layak jumlah waktu yang layak untuk dihabiskan untuk diri sendiri dan mengisi ulang.

4. Memberikan konteks secara lengkap

Ada kalanya beberapa panggilan sulit harus dilakukan, seperti tenggat waktu proyek yang singkat, meskipun beberapa orang sudah memiliki rencana atau hal lain yang sedang dikerjakan. Memberikan konteks lengkap, dan memberikan pemahaman tentang urgensi, dapat berfungsi sebagai tips bermanfaat untuk membawa dan memastikan semua orang pada tujuan yang sama tanpa menyebabkan hilangnya motivasi dan burnout.

Artikel ini diambil dari panel terbaru program Women with Impact, yang tersedia di channel YouTube East Ventures. Tonton video tersebut di sini.