Komunal's Co-Founders Rico Tedyono, Hendry Lieviant, Kendrick Winoto

Perusahaan fintech Indonesia, Komunal, meraih pendanaan seri A senilai US$ 2,1 juta yang dipimpin oleh East Ventures, terus mendorong inklusi keuangan di Indonesia

22 September 2021

Komunal, perusahaan fintech pertama yang menyediakan jasa Neo-rural bank secara lokal di Indonesia, mengumumkan telah meraih pendanaan Seri A sebesar US$ 2,1 juta (sekitar 30 miliar rupiah). Investasi ini dipimpin oleh East Ventures dengan partisipasi dari Skystar Capital. Keduanya juga merupakan investor Komunal dalam pendanaan tahap awal. Dana segar ini akan digunakan untuk mengakselerasi misi perusahaan untuk mendorong inklusi finansial di Indonesia dengan memperkuat produk terbaru Komunal, yaitu DepositoBPR.

Baru-baru ini, DepositoBPR mendapatkan lisensi resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) [No. Lisensi: S-178/MS.72/2021]. Lisensi ini menjadikan Komunal funding agent (agen pendanaan) resmi pertama di Indonesia. Funding agent dalam ekosistem OJK Ikatan Keuangan Digital (IKD) bertujuan untuk menyediakan platform yang bisa menghubungkan deposan dan peminjam dengan institusi finansial di seluruh Indonesia, terutama dengan BPR (Bank Perkreditan Rakyat), yang menawarkan produk pendanaan yang sangat menarik.

Indonesia memiliki 1.500 BPR yang tersebar di seluruh nusantara. Meskipun BPR ini hanya diperbolehkan menyalurkan kredit di provinsi masing-masing, mereka diperbolehkan untuk menerima deposit dari berbagai daerah dengan jaminan bunga hingga 2,5% lebih tinggi dari bank komersial dari pemerintah. Namun, 1.500 BPR gabungan ini hanya berkontribusi 1,5% dari total deposan negara karena sebagian besar BPR ini terletak di daerah pinggiran kota dan belum terdigitalisasi sehingga produk mereka tidak dikenal dan tidak dapat diakses oleh deposan perkotaan.

DepositoBPR memungkinkan seluruh penduduk Indonesia untuk mendapatkan bunga tertinggi yang dijamin oleh pemerintah saat membuka rekening deposito yang bebas risiko di BPR di daerah manapun, tanpa harus mendatangi bank secara langsung. Di sisi lain, BPR tetap bisa menerima deposit dari seluruh Indonesia tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar untuk membuka cabang dan untuk kegiatan marketing. Dengan kata lain, BPR dapat tetap menerima setoran tanpa mempedulikan batasan geografi, dan bisa mengalokasikan biaya operasional yang lebih rendah untuk jasa Komunal, dengan menggunakan platform DepositoBPR.

“Kami percaya kerja sama yang kuat antara funding agent dan BPR akan mendorong inklusi finansial negara ini dengan sangat baik. Karena skala usaha BPR lebih kecil dibandingkan bank komersial, mereka memiliki perubahan kebutuhan yang sangat dinamis dalam hal pemberian pinjaman dan pendanaan. Kita melihat berbagai kolaborasi dari sisi pinjaman, namun BPR tidak memiliki banyak pilihan untuk menyalurkan pendanaan walaupun mereka menawarkan produk yang menarik dan aman. Di masa pandemi, ironi ini semakin terlihat saat bank komersial lainnya memiliki likuiditas yang tinggi dengan penawaran bunga yang rendah, sedangkan BPR mengalami kesulitan menerima deposit hanya karena 95% dari deposan Indonesia tinggal di area perkotaan. Kami berharap platform ini bisa menjembatani masalah ini. Kami sangat menghargai segala bentuk dukungan dan saran yang telah OJK dan Asosiasi BPR berikan, untuk mengasah produk pertama di kategori ini,” ujar Hendry Lieviant, Co-Founder Komunal.

Salah satu tantangan utama dalam mengembangkan platform ini adalah membakukan dan mengoptimalkan proses-proses BPR yang saat ini masih terpecah-pecah sehingga deposan mendapatkan pengalaman terbaik. Misalnya, mengganti tanda tangan basah menjadi digital, mengenali identitas nasabah melalui video call dengan vendor e-KYC (Know Your Customer), dan yang paling penting adalah mengubah bilyet fisik menjadi e-bilyet. Semua ini belum pernah dilakukan dalam sejarah BPR.

Dengan membawa digitalisasi ke ekosistem, Komunal akan meluncurkan e-bilyet deposito BPR pertama di Indonesia, di akhir tahun 2021 ini. “E-bilyet merupakan fitur yang revolusioner. Selama ini deposito BPR masih mengandalkan bilyet atau sertifikat fisik. Contohnya, BPR di Bali harus mengirimkan bilyet fisik ke deposan yang berlokasi di Jakarta, sebaliknya deposan harus mengirimkan bilyet fisik ke BPR jika ingin menarik deposit mereka. Akhirnya, biaya logistik yang cukup tinggi tidak bisa terhindarkan. Melalui e-bilyet, masalah ini bisa teratasi dan visi Komunal untuk membuat produk yang dapat diakses secara nasional bisa tercapai,” jelas Kendrick Winoto, Co-Founder Komunal.

Hingga kini, Komunal telah bermitra dengan 60 BPR di Jawa dan Bali, serta meluncurkan DepositoBPR versi beta di bulan Agustus 2021. Komunal sedang fokus untuk melipatgandakan market share BPR dengan menawarkan bunga yang lebih tinggi dan memberikan layanan transaksi yang lebih mulus kepada nasabah lama maupun baru.

Komunal telah memberikan pinjaman sebesar US$ 50 juta (sekitar Rp 713 miliar) untuk ratusan UKM di Indonesia. Angka tersebut dua kali lipat lebih banyak dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. Komunal berkomitmen untuk terus mendukung UKM dalam mendapatkan akses kredit dengan menargetkan pemberian pinjaman sebesar US$ 150 juta (sekitar Rp 2.1 triliun) hingga tahun depan. Di masa pandemi ini, Komunal telah memperkuat arus kas perusahaan dengan burn rate yang rendah berkat bisnis pinjamannya yang telah meraih keuntungan baru-baru ini.

Willson Cuaca, Co-Founder dan Managing Partner East Ventures berkata, “East Ventures adalah investor dengan suatu tujuan yang menggunakan pendekatan holistik untuk memecahkan masalah. Kami bangga bisa memberikan investasi lagi ke Komunal karena kami memiliki visi dan tujuan yang sama. Komunal membawa inklusi finansial ke level berikutnya. Kita sering mendengar banyak startups yang memberi solusi kepada konsumen yang tidak memiliki rekening bank dan tidak mendapatkan layanan yang baik, maupun kepada usaha kecil dan mikro yang tidak memiliki kredit. Namun, belum ada yang memberikan solusi kepada BPR. Komunal memperkenalkan sebuah konsep baru, yaitu “neo-rural bank” untuk mengembangkan bank kecil dengan kapabilitas yang canggih. Kami berharap langkah ini dapat mengakselerasi inklusi finansial secara masif dan mendalam untuk seluruh daerah di Indonesia.”