...
East Ventures – Digital Competitiveness Index 2026_Siaran Pers
Press Release

East Ventures merilis Digital Competitiveness Index 2026, menyoroti fase transformasi digital Indonesia selanjutnya

East Ventures
Share

East Ventures, perusahaan venture capital terkemuka dan pionir investasi startup, bersama dengan Katadata Insight Center, meluncurkan laporan East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026. Mengusung tema “Penguatan pembangunan nasional melalui pemberdayaan teknologi digital”, laporan EV-DCI 2026 menekankan pentingnya menerjemahkan kesiapan digital menjadi dampak sosioekonomi yang nyata. Laporan ini menekankan bahwa transformasi digital yang sesungguhnya harus berperan sebagai katalis untuk produktivitas yang lebih tinggi, entrepreneurship digital yang lebih kuat, dan penciptaan lapangan kerja yang berkualitas di seluruh Indonesia.

“Dengan akses digital yang semakin terdistribusi dengan baik, keunggulan kompetitif Indonesia terletak pada kesediaan kita untuk mendorong efisiensi dalam pengumpulan data, membangun platform yang terintegrasi untuk memproses data tersebut, serta mendistribusikan informasi yang terpercaya. Dengan mengintegrasikan kapabilitas ini ke dalam program nasional, kita dapat mengeksekusi program-program nasional dengan perencanaan dan proses yang lebih lancar, memantau secara real time, serta melakukan iterasi dengan cepat untuk beradaptasi terhadap isu-isu yang muncul dari lapangan. Hal ini akan mengubah infrastruktur digital menjadi dividen digital yang nyata bagi semua,” kata Willson Cuaca, Co-Founder dan Managing Partner East Ventures

Sejak peluncuran perdana EV-DCI pada tahun 2020, tujuan East Ventures tetap sama: menyajikan wawasan berbasis data dan analisis mendalam mengenai dampak perkembangan ekonomi digital di Indonesia. Melalui EV-DCI, East Ventures bertujuan mendorong inklusivitas dan mempromosikan distribusi peluang digital serta ekonomi yang lebih merata bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Temuan utama East Ventures – Digital Competitiveness Index 2026

EV-DCI 2026 menyajikan data daya saing digital di 38 provinsi dan 157 kota/kabupaten di Indonesia. Selama tujuh tahun terakhir pelaporan, transformasi digital Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang stabil dan progresif, dengan rata-rata skor provinsi meningkat lebih dari 50% sejak tahun 2020. Laporan tahun ini menyatakan bahwa skor EV-DCI meningkat dari 38,8 pada tahun 2025 menjadi 42,2 pada tahun 2026. Hal ini juga menunjukkan peningkatan berkelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya: 38,1 (2024), 37,8 (2023), dan 35,2 (2022).

Laporan ini turut menyoroti bahwa 37 dari 38 provinsi mencatat perbaikan skor, dengan 10 provinsi teratas dengan skor indeks tinggi masih didominasi oleh provinsi di Pulau Jawa. DKI Jakarta dan Jawa Barat secara konsisten menempati peringkat pertama dan kedua selama enam tahun terakhir. Secara berurutan, 10 provinsi teratas adalah: (1) DKI Jakarta, (2) Jawa Barat, (3) Jawa Timur, (4) Banten, (5) DI Yogyakarta, (6) Kalimantan Timur, (7) Bali, (8) Jawa Tengah, (9) Kepulauan Riau, dan (10) Sulawesi Selatan. 

Papua Barat Daya mencatat lonjakan peringkat terbesar dengan naik 15 posisi. Pertumbuhan ini didukung oleh pilar Infrastruktur, yang utamanya didorong oleh peningkatan Rasio Desa yang Mendapat Sinyal 4G. Hampir semua metrik dalam pilar Kewirausahaan dan Produktivitas juga mengalami pertumbuhan, termasuk rasio pekerja yang menggunakan internet untuk penjualan melalui media sosial.

Meskipun hampir semua provinsi telah mengalami peningkatan, kesenjangan antara provinsi dengan tingkat daya saing digital tertinggi dan terendah belum menyempit secara signifikan. Sebagai provinsi dengan skor tertinggi, DKI Jakarta mengungguli provinsi dengan peringkat terbawah dengan selisih hampir 60 poin. Hal tersebut menunjukkan bahwa satu provinsi hampir dua kali lebih siap secara digital dibandingkan dengan provinsi lainnya.

Fase selanjutnya dari transformasi digital Indonesia, dari adopsi digital menuju penciptaan nilai digital

Temuan EV-DCI 2026 menunjukkan bahwa transformasi digital menjadi semakin terintegrasi di seluruh perekonomian dan layanan publik Indonesia. Laporan ini juga memaparkan bahwa Program Prioritas Nasional menyertakan digitalisasi dalam implementasinya. Seiring dengan diterapkannya program-program ini secara nasional, kesiapan digital akan menjadi faktor penting dalam efektivitas pelaksanaannya.

Ke depan, tantangannya tidak lagi hanya seputar memperluas adopsi digital, melainkan memastikan bahwa peningkatan kapasitas digital dapat diterjemahkan menjadi produktivitas yang lebih kuat, entrepreneurship digital, dan peluang kerja yang lebih berkualitas di berbagai wilayah.

Pendorong utama transisi ini adalah talenta digital. Namun, meskipun telah ada kemajuan positif, laju perkembangan talenta digital mulai melandai. Di saat yang sama, kemajuan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membentuk kembali keterampilan yang dibutuhkan dalam ekonomi digital. Pergeseran ini mengubah arah permintaan dari yang semula literasi digital dasar menjadi kompetensi yang lebih lanjut dan terapan, terutama kemampuan mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis, produk, dan layanan publik.

Seiring dengan negara-negara di Asia Tenggara yang mempercepat investasi pada talenta AI, memperkuat kesiapan angkatan kerja akan menjadi semakin penting untuk mempertahankan daya saing digital. Di Indonesia, agenda ini menjadi semakin mendesak seiring dengan ekspansi infrastruktur digital yang pesat. Meskipun kapasitas pusat data diproyeksikan akan tumbuh secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan, pemanfaatan potensi ekonomi secara penuh akan bergantung pada ketersediaan talenta yang siap AI, tata kelola data yang efektif, serta regulasi yang ramah inovasi dan mendukung pertumbuhan produktivitas.

Berdasarkan temuan EV-DCI 2026, penguatan daya saing digital Indonesia harus berfokus pada empat prioritas utama:

  • Mendorong kolaborasi dalam mempercepat transformasi digital

Transformasi digital Indonesia membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, sektor swasta, startup, akademisi, dan komunitas lokal. Dengan mengadopsi pendekatan tata kelola kolaboratif, para pemangku kepentingan dapat bersama-sama merancang dan menerapkan solusi digital, mempercepat inovasi, serta memastikan bahwa upaya digitalisasi nasional dan daerah memberikan hasil yang terukur dan inklusif.

  • Perluasan konektivitas digital untuk mempercepat pemerataan daya saing digital daerah

Memperkecil kesenjangan digital antarwilayah memerlukan investasi yang tepat sasaran pada infrastruktur digital, kualitas internet, dan keterjangkauan harga. Memperluas konektivitas digital melalui pemerataan infrastruktur, perbaikan kualitas akses internet, dan peningkatan keterjangkauan layanan digital dapat membantu menghasilkan peluang ekonomi yang lebih kuat dan layanan publik yang lebih baik di seluruh daerah.

  • Digitalisasi UMKM untuk mendorong inklusi ekonomi lokal

UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia, namun banyak yang masih menghadapi hambatan dalam hal pembiayaan, teknologi, dan akses pasar. Penguatan ekosistem ekonomi digital, seperti pemanfaatan rekam jejak transaksi digital sebagai basis penilaian kelayakan usaha serta meningkatkan kapasitas dan pendampingan digitalisasi, dapat mempercepat digitalisasi UMKM, memperluas inklusi keuangan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di berbagai wilayah.

  • Peningkatan jumlah talenta dan kapabilitas digital

Akselerasi pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui strategi pelatihan, peningkatan keterampilan,  serta  penguatan kompetensi AI sangat diperlukan untuk menyelaraskan kapabilitas talenta lokal dengan pesatnya pertumbuhan infrastruktur digital global, sehingga Indonesia mampu mentransformasi kesiapan digital menjadi inovasi, produktivitas, dan nilai tambah ekonomi yang berdaya saing tinggi.

Tentang skor East Ventures – Digital Competitiveness Index 2026 

EV-DCI 2026 mengukur daya saing digital dari 38 provinsi dan 157 kota/kabupaten di Indonesia. Indeks ini terdiri dari tiga subindeks: Input, Output, dan Penunjang. Setiap subindeks tersusun atas tiga pilar, sehingga menghasilkan sembilan pilar yang menjadi fondasi EV-DCI. Kesembilan pilar ini diwakili oleh 50 indikator, dengan setiap pilar terdiri dari tiga hingga sembilan indikator.