Jojonomic

Jojonomic meningkatkan efisiensi perusahaan lewat digitalisasi proses manual

5 Oktober 2021

Indrasto Budisantoso, CEO dan Pendiri Jojonomic yakin bahwa pendiri startup yang istimewa adalah mereka yang mengingat dan mengubah masalah yang terjadi di masyarakat menjadi platform serba bisa yang dapat memecahkan kesulitan di bidang tertentu. Setelah menghabiskan sebagian besar karirnya sebagai konsultan manajemen yang mewajibkannya sering bepergian ke banyak tempat, Indrasto melakukan proses reimbursement secara manual yang membosankan dan repetitif. Bahkan setelah perannya sebagai country head di perusahaan digital yang berasal dari Amerika, Indrasto masih diusik oleh tumpukan formulir reimbursement yang perlu disetujui.

Indrasto akhirnya mulai membangun solusi reimbursement berbasis mobile pertama di Indonesia, Jojonomic. Fitur pertama yang diluncurkan adalah JojoExpense untuk mempermudah dan mempercepat proses reimbursement yang sebenarnya sederhana namun menyita waktu melalui digitalisasi. Jojonomic menyediakan perangkat lunak berbentuk layanan (SaaS) yang berfokus pada B2B untuk mengatasi banyak masalah dalam operasi bisnis. Tidak hanya layanan reimbursement, beberapa fungsi penting dari Jojonomic adalah JojoTimes (untuk melacak kehadiran karyawan) dan JojoPayroll (fitur yang membantu proses penggajian yang rumit menjadi mudah).

Jojonomic ingin memecahkan masalah yang sudah lama terjadi di lingkungan perusahaan dan berkontribusi memperbaiki ekonomi digital melalui digitalisasi proses manual saat menjalankan bisnis. Tujuan ini selaras dengan poin dalam East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2021, di mana infrastruktur digital dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah dua pilar fundamental yang mendorong ekonomi digital Indonesia ke level berikutnya.

Officeless Operating System, satu platform untuk mengatur semuanya

Menyadari bahwa inovasi adalah kunci dari melesatnya suatu bisnis, Jojonomic baru-baru ini meluncurkan satu platform yang bisa mengatur semuanya bernama Officeless Operating System (OOS). Aplikasi ini dibuat karena kecintaan anak Indrasto terhadap Roblox, platform game online yang mengizinkan pengguna untuk memprogram game mereka sendiri.

OOS adalah one-stop solution untuk menghilangkan inefisiensi dari operasi bisnis yang serba manual di setiap perusahaan dengan memungkinkan individu mengubah alur dan proses bisnis sesuai kebutuhan masing-masing. Mirip dengan menyusun balok Lego, para perusahaan dapat membangun “taman bermain” mereka sendiri dengan memilih modul individual dan layanan mikro berdasarkan kebutuhan dan masalah yang ingin didigitalisasi, baik berupa penarikan data, foto maupun laporan. Platform ini hadir di waktu yang tepat, karena jika perusahaan ingin mengatasi banyak masalah dalam waktu bersamaan, mereka tidak perlu membangun aplikasi terpisah atau perangkat lunak khusus untuk setiap masalah.

OOS adalah jawaban mengapa klien utama Jojonomic adalah perusahaan berukuran menengah hingga besar. Selama ini, tantangan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan berukuran besar terletak pada kecepatan dan seringnya perubahan dilakukan pada proses bisnis. Hal ini membuat startup dan perusahaan digital terombang-ambing dalam keraguan dan ketidakpastian apakah mereka bisa memberikan hasil terbaik. Namun, dengan OOS, setiap kesulitan menjadi mudah untuk dipilah berkat opsi komponen-per-komponen.

“Kami percaya bahwa menemukan solusi bukan berarti harus coding berjam-jam. Meskipun tidak harus coding berlama-lama merupakan keuntungan, ini bukan nilai tambah yang paling penting. Tujuan utama kami adalah menekankan penyederhanaan proses bisnis. Sama halnya dengan perusahaan telekomunikasi dan software digital, menurut saya yang benar-benar penting adalah apakah aplikasi tersebut memberikan solusi untuk masalah yang sudah lama terjadi,” jelas Indrasto.

Melebarkan sayap dan merangkul wilayah terpencil yang sedang berkembang

Sebagian besar klien Jojonomic berpusat di DKI Jakarta, diikuti oleh beberapa provinsi besar di Jawa: Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hal ini tentu bukan kejutan, karena laporan EV-DCI menunjukkan bahwa 8 dari 10 kota dengan daya saing digital terbaik ada di Jawa. Meski begitu, terlepas dari pulau Jawa, Jojonomic memiliki pengguna yang cukup banyak di Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Kedua provinsi tersebut memiliki ibukota masuk dalam 10 besar kota dengan daya saing digital tertinggi. Medan adalah kota di Sumatra Utara dengan skor daya saing digital tertinggi, sedangkan Makassar, ibukota dari Sulawesi Selatan, berada di posisi ke-10 dan menjadi satu-satunya kota di Sulawesi yang berhasil masuk dalam 10 besar kota dengan daya saing digital tertinggi. Terlepas dari pemusatan pengguna di Jawa, Jojonomic telah memperluas layanan mereka ke Aceh, Kalimantan (perusahaan perkebunan), Sulawesi dan Papua. Hal ini membuktikan fokus Jojonomic untuk membuat distribusi pengguna lebih merata dari timur hingga barat Indonesia.

Poin menarik lainnya dari data EV-DCI adalah kota Banda Aceh, tempat di mana salah satu klien Jojonomic berada, yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tertinggi kedua di Indonesia. Walaupun salah satu tantangan yang dihadapi Jojonomic dalam memperluas layanan mereka di luar kota besar adalah keterbatasan infrastruktur dan koneksi internet serta kebiasaan lama yang sulit diubah, penemuan kecil ini memberikan harapan bahwa kota dan wilayah di luar pulau Jawa mulai bergerak ke arah yang benar.

Selain perusahaan sedang hingga besar, pengguna Jojonomic adalah perusahaan dengan mobilitas karyawan tinggi. Satu contoh yang menggambarkan karakteristik ini adalah sebuah klien di daerah terpencil yang menggunakan layanan OOS Jojonomic untuk melacak aktivitas dan distribusi sukarelawan.

David Fernando Audy, Mitra Operasi East Ventures, menyatakan, “Jojonomic menyediakan solusi alur kerja kantor yang cerdas dan produktif sehingga memungkinkan kolaborasi online, otomatisasi, pemantauan, dan manajemen untuk mencapai proses bisnis yang lebih baik dan lebih efektif. Solusi tersebut sangat penting untuk transformasi bisnis ke online dan terutama untuk proses kerja jarak jauh. Peran Jojonomic tentu sangat penting dalam meningkatkan Indeks EV-DCI di setiap provinsi di mana Jojonomic membantu perusahaan dengan transformasi proses bisnis mereka ke online.”

Pandemi yang mengganggu tetapi memperkokoh dan jalan ke depan

Bagi Jojonomic, pandemi tidak hanya mendorong bisnis untuk bergerak ke arah digital dan tetap bertahan, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menyaksikan keajaiban dari digitalisasi proses bisnis. Seiring remote working menjadi metode operasi sehari-hari yang digunakan, semakin banyak orang yang menyadari betapa bermanfaatnya OOS dalam membantu mereka menyalurkan informasi dan menarik data penting. Hingga saat ini, Jojonomic telah berkembang 3 kali lipat dalam pendapatan bulanan dibandingkan dengan Maret 2020 ketika pandemi mulai menyebabkan krisis bagi banyak bisnis.

Satu kisah hangat datang dari sebuah perkebunan di Kalimantan, di mana Jojonomic benar-benar membuktikan kemampuan mereka dalam mengubah kemunduran menjadi kemajuan dengan menghapus praktik yang tidak efisien seperti pelaporan manual dan kurangnya transparansi yang berujung pada penipuan. Indrasto berpendapat bahwa perkembangan dalam SaaS memungkinkan adopsi digital tanpa harus menggelontorkan investasi awal yang besar, sehingga sistem digital bisa diakses oleh semua bisnis di Indonesia.

Tagline Jojonomic adalah ‘the future of work’, yang berarti karyawan adalah bagian utama dan bahkan terpenting dari sebuah perusahaan. Melihat mereka senang membuat saya bahagia,” tutup Indrasto.