Roderick Purwana masuk ke daftar Fortune Indonesia 40 Under 40

17 Februari 2022

Pengalaman sebagai perintis startup membuat Roderick menjadi investor yang lebih memiliki pemahaman dan empati dua arah. Menanti pecah telur saat ada startup dalam ekosistemnya melantai di bursa.

Nasib orang siapa yang tahu? Roderick Purwana (39) tak pernah berencana untuk bekerja di industri keuangan. Setelah menyelesaikan sekolah menengah di Jakarta, ia hijrah ke Negeri Paman Sam untuk melanjutkan pendidikan.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini memilih jurusan teknik pangan di program sarjana, lalu teknik industri untuk untuk program masternya. Jurusan yang dipilihnya itu dekat dengan sang ayah. 

“Ayah saya eksportir produk kimia, ibu saya florist. Keluarga kami memang sangat dekat,” ujarnya kepada Fortune Indonesia.

Siapa sangka, setelah merampungkan pendidikannya, Roderick malah mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan modal ventura di Silicon Valley, California. Empat tahun bekerja, Roderick memutuskan pulang kampung agar lebih dekat dengan orang tuanya. Antara 2009-2011, ia membantu bisnis logistik dan transportasi milik kerabatnya sebelum bergabung dengan private equity fund milik Thomas Lembong, Quvat.

Setelah itu, ia bersama rekannya merintis startup fesyen Bobobobo. Dua setengah tahun di sana, ia keluar. 

Nasib lalu membawanya bertemu bos Sinar Mas, Franky Oesman Widjaja. Franky sebenarnya menawarkan modal kepada Roderick untuk kembali merintis startup. Namun, Roderick malah mengajukan proposal untuk memulai modal ventura sehingga lahirlah SMDV (Sinar Mas Digital Ventures) pada 2014. “Nah, salah satu investasi pertama SMDV itu ke East Ventures,” kata Roderick.

Pada 2017, seiring perkembangan bisnis digital di Indonesia, muncul inisiatif untuk membangun EV Growth yang fokus menyuntik modal startup berskala besar. Atas persetujuan SMDV, Roderick akhirnya memimpin EV Growth dan Willson Cuaca memimpin East Ventures yang fokusnya investasi ke startup pada tahap awal. Sementara Batara Eto dan Taiga Matsuyama sebagai mitra mereka di Jepang. EV Growth kemudian kembali dilebur ke East Ventures pada awal 2021.

Roderick menyebut pengalaman yang dimilikinya sebagai perintis startup sangat mendukung perannya sebagai investor. “Pernah menjadi founder startup, saya jadi lebih berempati dalam relasi dengan mereka. Kalau investor cuma bisa menyuruh tetapi tidak memahami masalah, mungkin mereka kesal juga,” ujarnya tertawa.

Roderick berkisah, pada awal eksistensinya relasi antara para investor di East Ventures dengan para pendiri startup begitu dekat. Willson Cuaca misalnya, pernah menemani Founder Traveloka, Ferry Unardi mencari investor ke Tiongkok. Begitu juga Roderick yang kerap menjadi tempat mereka mencurah.

Dua belas tahun berdiri, ada lebih dari 200 startup dalam ekosistem East Ventures. Dengan lebih dari 400 founders, tentu tak semua koordinasi dilakukan secara langsung. Maka, East Ventures pun menambah anggota timnya untuk koordinasi hingga mencapai lebih dari 50 orang.

Dengan tingkat pengembalian atau Internal Rate of Return (IRR) mencapai kisaran 30 persen, apakah East Ventures siap melakukan exit strategy? Roderick menyebut bahwa ada sejumlah penjualan yang telah dilakukan. Di antaranya penjualan Moka ke Gojek dan Kudo ke Grab

“Yang masih belum pecah telur itu IPO (Initial Public Offering). Mudah-mudahan GoTo bakal IPO, Traveloka juga sedang membidik pasar publik tahun ini,” ujarnya.

Apakah itu berarti East Ventures akan menjual semua saham saat ada startup dalam ekosistemnya IPO? Belum tentu. Menurut Roderick, East Ventures bukan pemilik suara mayoritas di startup-startup yang bersiap go public itu. Sementara, kerap ada ketentuan lock up atau menahan investasi saat sebuah perusahaan melantai di bursa.

Ia juga mengamati bahwa kinerja sejumlah startup di pasar modal saat ini kurang memuaskan. Bagaimanapun, dana yang didapat dengan mekanisme go public dipandang positif. Perhitungannya, jika Grab mampu meraup US$8 miliar, GoTo mungkin bisa meraih sekitar US$5 miliar. “Dengan uang sebanyak itu, kemungkinan mereka akan lebih aktif melakukan akuisisi,” ujarnya. 

Melirik Blockchain dan NFT

Bekerja di industri digital membuat Roderick selalu mengamati segala perkembangan terkait teknologi, termasuk non-fungible token. NFT Ghozali Everyday yang viral menarik perhatiannya, meski tak ikut mengoleksi.

Roderick juga terus mengamati perkembangan mata uang digital dan turut membeli sejumlah koin. Di institusi, East Ventures telah berinvestasi di bursa mata uang kripto, Indodax.

Ia menyebut, total perdagangan mata uang digital di seluruh dunia saat ini sekitar US$2,3 triliun, masih lebih kecil ketimbang kapitalisasi pasar Apple. Bagaimanapun, di Indonesia jumlah investor mata uang digital sudah mencapai 9,5 juta akun, lebih banyak ketimbang investor saham. Belum lagi, alokasi aset anak muda sekarang lebih berat di koin ketimbang saham. “Pasarnya secara holistik sangat menarik. Ini mungkin akan menjadi fokus kami juga tahun ini.”

Hal ini dikonfirmasi oleh Willson Cuaca, Co-Founder dan sesama Managing Partner East Ventures. Menurutnya, sejumlah sektor baru akan mewarnai pertumbuhan ekonomi digital Indonesia di masa depan dan East Ventures siap menanamkan modal di sektor-sektor tersebut. Di kategori teknologi finansial, blockchain dan NFT akan berkembang pesat. Begitu pula perusahaan-perusahaan yang melayani belanja online secara instan.

Ia juga menyatakan bahwa Roderick merupakan bagian terpenting dari ekspansi East Ventures. “Sejak bekerja sama dalam kapasitas yang berbeda sejak 8 tahun yang lalu, Roderick selalu konsisten dan tajam dalam menganalisa persoalan. Roderick adalah seseorang yang memegang etos kerja yang baik dan partner yang selalu dapat diandalkan.”

***

Roderick Purwana merupakan salah satu tokoh Indonesia berusia di bawah 40 yang masuk dalam daftar 40 Under 40 yang dirilis FORTUNE Indonesia.

Artikel asli diterbitkan di majalah FORTUNE Indonesia edisi Februari 2022: 40 Under 40.