Back
Is ESG expensive
East Ventures

Share

23 November, 2022

Insights

Apakah keberlanjutan itu mahal? Inilah faktanya

Banyak perusahaan ragu saat mempertimbangkan untuk menerapkan kerangka Lingkungan, Sosial, Tata Kelola (LST / ESG) pada bisnis mereka. Salah satu argumennya adalah perlukah perusahaan mengeluarkan biaya lebih tinggi dan membuat produk mahal untuk mencapai keberlanjutan.

Jawabannya adalah tidak. Memiliki bisnis yang berkelanjutan berarti perusahaan perlu menemukan cara untuk meningkatkan skala usahanya, menekan biaya operasi dan harga yang lebih terjangkau bagi pelanggan. Adapun, solusi keberlanjutan ini akan lebih baik  jika dapat menghasilkan nilai bagi perusahaan.

Dari sisi investor, East Ventures selalu mencari potensi investasi yang dapat menghadirkan solusi berkelanjutan yang dapat ditingkatkan skalanya dan bersaing dengan solusi yang sudah ada. “Solusi ini harus dapat menghemat biaya dan meningkatkan efisiensi untuk bisnis dan pelanggan. Kami menyukai solusi semacam ini, dan dapat berinvestasi pada solusi yang meningkatkan skala usahanya dan bermanfaat bagi lingkungan,” kata Avina Sugiarto, Partner di East Ventures.

East Ventures baru-baru ini menandatangani Nota Kesepahaman dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Net Zero Hub dan World Resources Institute (WRI) Indonesia untuk kemitraan strategis dan kolaborasi dalam memajukan komitmen menuju target emisi nol bersih (net zero).

Sebagai bagian dari ekosistem East Ventures, grup GoTo juga menetapkan tujuan keberlanjutannya menjadi tiga komitmen nol pada tahun 2030, termasuk nol emisi, nol limbah, dan nol hambatan. Dalam menerapkan kerangka keberlanjutan dan ESG, grup GoTo tidak memisahkan keberlanjutan dari lini bisnis atau departemen lain. Sebaliknya, keberlanjutan menjadi prioritas bagi perusahaan untuk melaksanakan operasinya untuk menggantikan dan mengurangi biaya operasional. Selain itu, berusaha membuat keberlanjutan menghasilkan nilai bagi pemangku kepentingan mereka, termasuk pedagang, mitra pengemudi, konsumen, karyawan, dan mitra lainnya.

“Keberlanjutan bukanlah pusat (pengeluaran) biaya. Keberlanjutan dibuat untuk menciptakan nilai bagi stakeholders kami. Kami harus dapat mengukur dan melacaknya, dan  harus sejalan dengan kerangka kerja atau standar global ESG, sehingga kami terus bertanggung jawab atas komitmen dan kemajuan yang telah kami buat,” ujar Tanah Sullivan, Head of Sustainability di GoTo Group.

Perusahan portofolio East Ventures lainnya adalah ARIA, sebuah startup agritech yang menghadirkan solusi presisi pertanian. Aria menggunakan drone, big data, dan citra satelit untuk membantu pelanggan dan petani skala kecil meningkatkan efisiensi, menurunkan biaya produktivitas dalam hal air dan pupuk, serta mengatasi masalah ketahanan pangan.

“Saat kami memulai ARIA, tujuan kami adalah menjadikan pertanian lebih efisien. Namun saat kami mempelajari lebih dalam, kami menyadari bahwa kami perlu memperbaiki hal-hal lain sebelum mewujudkan visi tersebut. Pertama adalah masalah ketahanan pangan. Kedua adalah keberlanjutan tanaman dan yang ketiga adalah kesejahteraan petani,” kata Arden Lim, Co-Founder dan Chief Product Officer ARIA.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, kondisi tersebut tidak seimbang dengan jumlah petani dan produktivitas pertanian. Pada tahun 2050, Arden memperkirakan, Indonesia perlu menggandakan produksi pangan untuk memberi makan penduduk di negeri ini, yang berarti setiap bagian dari tanah harus mampu menghasilkan lebih banyak pangan. Namun, praktik pertanian saat ini tidak berkelanjutan. Proses pemupukan yang terlalu banyak atau sedikit membuat tanah menjadi stres karena kelebihan pupuk kimia memutihkan tanah sehingga sangat sulit untuk mempertahankan kegunaannya. Masalah terkait lainnya mengarah pada kesejahteraan petani. Petani dianggap sebagai pekerjaan bergaji terendah di Indonesia, di mana tidak ada pemuda yang ingin beregenerasi dan menjadi petani.

Dalam mengatasi semua masalah tersebut, ARIA memanfaatkan teknologi kesehatan tanamannya dengan menggunakan citra satelit dan drone untuk mendeteksi makronutrien di dalam tanah untuk rekomendasi perawatan pupuk dan pestisida yang lebih akurat.

Sementara itu, layanan drone dapat membantu petani menghemat biaya dan lebih efisien daripada mempekerjakan buruh. ARIA dapat mengenakan biaya sekitar IDR 200.000 – IDR 250.000 per hektar lahan, dibandingkan dengan biaya tenaga kerja yang dapat menelan biaya antara IDR 240.000 hingga IDR 600.000. Selain itu, teknologi drone dapat menghemat air 80% dibandingkan air dengan cara tradisional.

Kolaborasi adalah kunci

Namun, Tanah mengakui bahwa banyak solusi keberlanjutan masih dikenakan biaya, yang membuat solusi tersebut tidak dapat dikembangkan di Indonesia dan cukup menantang untuk diimplementasikan bagi mitra pengemudi atau merchants.

“Baik itu kemasan alternatif atau kendaraan listrik untuk mitra pengemudi atau merchants, kami perlu memahami dan memastikan bahwa solusi ini dapat diterapkan dan melayani mitra kami dan bersaing dengan solusi yang ada,” tambah Tanah.

Oleh karena itu, kolaborasi sangat penting untuk menemukan solusi terbaik untuk mengatasi masalah. Grup GoTo telah membuka ekosistemnya untuk bekerja sama dengan startup dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk East Ventures untuk melakukan iterasi, percontohan, dan pengembangan skala bisnis di pasar Indonesia.

Bagi East Ventures, kolaborasi sangat penting untuk mengembangkan ekosistem. Avina menyebutkan bahwa East Ventures telah secara aktif bekerja sama dalam ekosistem dan grup bisnis karena semua pemangku kepentingan perlu mencari tahu masalah dan solusi apa yang dapat diberikan oleh startup.

Yang paling penting adalah kebijakan atau insentif pemerintah karena pemerintah yang membuat dan mengendalikan prosedur untuk mendukung perusahaan dalam transisi menuju keberlanjutan.

***

Artikel ini merupakan ringkasan konten dari diskusi panel East Ventures “Advancing climate tech investment to achieve net zero” di Indonesia Net Zero Summit 2022 yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN Indonesia) pada 11 November 2022.