Closing the digital divide - Four strategies to tackle digital access inequality
East Ventures

Share

7 Juli 2023

EV-DCI

Mengurangi kesenjangan digital: Strategi mencapai kesetaraan akses digital

Perkembangan digital Indonesia, yang dapat diukur dari adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), berkembang dengan pesat yang didorong oleh adanya pandemi COVID-19 dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun mengalami pertumbuhan pesat, distribusi terhadap pengadopsian teknologi di Indonesia masih belum merata sehingga menimbulkan berbagai tantangan yang dihadapi oleh beberapa daerah.

Indonesia mencatat kenaikan jumlah pengguna internet sebesar 215,6 juta pada tahun 2023 yang melampaui angka sebelum pandemi yaitu sebesar 196,7 juta di tahun 2019. Pertumbuhan dalam penggunaan internet tercermin lebih lanjut dalam East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2023 yang menunjukkan peningkatan konsisten dalam skor keseluruhan yaitu 38,5 dengan bertambahnya 3,3 poin dari tahun sebelumnya. Hal tersebut menyoroti kemajuan akses digital provinsi menengah dan bawah.

Skor EV-DCI 2023 Berdasarkan Sub-Indeks

Sumber: East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2023

Pada sub-indeks Input yang menilai kesiapan sumber daya manusia, penggunaan teknologi digital, dan pengeluaran yang terkait dengan teknologi digital, skornya meningkat sebesar 3,2 poin dan mencapai angka 40,1. Peningkatan ini dipengaruhi oleh pilar Penggunaan TIK dengan kemajuan pada indikator utama seperti Rasio Penduduk yang Memiliki Handphone (13,9) dan Rasio Penduduk dengan Akses Internet (17,8). Akibatnya, kemajuan tersebut berdampak positif pada pilar Pengeluaran TIK, dengan peningkatan rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan TIK dan gaji yang lebih tinggi untuk karyawan TIK.

Sektor TIK berperan penting dalam meningkatkan skor EV-DCI di berbagai wilayah di Indonesia. Misalnya, Jawa Tengah, mengalami peningkatan yang signifikan dari posisi ke-14 menjadi posisi ke-6 dengan skor 48,1. Hal ini disebabkan oleh fokus pemerintah provinsi dalam mengimplementasikan pilar Penggunaan TIK khususnya dalam inisiatif smart city. Sementara itu, Kepulauan Bangka Belitung naik 12 peringkat menjadi posisi ke-17 dengan skor 39,5. Pilar Pengeluaran TIK di provinsi tersebut meningkat karena pemerintah yang mendukung peningkatan kapasitas digital UMKM.

Hambatan di tengah pesatnya pertumbuhan teknologi

Terlepas dari pesatnya kemajuan transformasi digital, banyak tantangan yang menghambat kemajuan untuk mencapai akses digital yang setara, hal ini termasuk:

1. Distribusi infrastruktur jaringan yang tidak merata

Meskipun ada kemajuan di area pedesaan, kesenjangan digital antara perkotaan dan pedesaan masih terus terjadi di Indonesia. Peta di bawah ini mengilustrasikan penetrasi internet pada tahun 2021, yang menunjukkan adanya kesenjangan dengan warna lebih gelap menunjukkan tingkat populasi dengan akses internet yang lebih besar. Terfokusnya akses internet di Indonesia bagian barat dan wilayah perkotaan menekankan kebutuhan mendesak untuk menjembatani kesenjangan digital melalui peningkatan distribusi infrastruktur TIK.

2. Presentase penduduk yang mengakses internet 2021

Presentase penduduk yang mengakses internet 2021

Statistik Telekomunikasi Indonesia 2021 dalam laporan  East Ventures – Digital Competitiveness Index 2023

3. Tingkat keamanan siber yang lemah

Tahun 2022 menjadi saksi dari 8.831 kasus kejahatan siber yang ditangani oleh Unit Kepolisian Republik Indonesia, Bareskrim E-MP Robinopsnal. Selain itu, insiden pencurian data oleh peretas yang dikenal sebagai “Bjorka” menekankan kebutuhan terhadap keamanan siber yang lebih baik dan tindakan perlindungan data.

4. Ketidaksetaraan tingkat literasi digital 

Kurangnya pengetahuan digital dan terbatasnya adopsi teknologi di Indonesia tergambar dengan adanya tiga dari 10 besar provinsi dengan skor EV-DCI 2023 tertinggi yang masih memiliki indeks literasi digital lebih rendah dari nilai rata-rata. Hal ini menghambat adopsi teknologi dan kurangnya kualitas talenta digital di Indonesia. Statistik menunjukkan bahwa hanya 50% dari talenta digital di Indonesia yang memiliki keterampilan digital tingkat dasar dan menengah, sementara hanya 1% memiliki keahlian tingkat lanjut di bidang seperti Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT).

Hal utama untuk mengatasi ketidaksetaraan dalam akses digital

Dalam mengatasi masalah tersebut dan mengupayakan akses digital yang setara, beberapa inisiatif telah dilakukan untuk memajukan sektor TIK dan menjembatani kesenjangan. Hal-hal yang menjadi fokus utama dibawah ini sangat penting untuk mengatasi kesenjangan akses digital:

1. Meningkatkan infrastruktur jaringan internet

Pemerintah secara aktif memprioritaskan peningkatan lanskap infrastruktur digital untuk memperluas akses digital, khususnya mendorong pemerataan ketersediaan internet. Komitmen yang patut dicontoh dalam hal ini adalah peluncuran Satelit Satria baru-baru ini yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sinyal dan memperluas cakupan di daerah-daerah yang belum terjangkau.

2. Mengembangkan ekosistem digital

Perusahaan startup dan pemerintah dapat mengembangkan ekosistem digital melalui kolaborasi yang bertujuan untuk meningkatkan literasi dan keterampilan digita. Sebagai contoh, perusahaan portofolio East Ventures, seperti Mekari dan Tokopedia, mendukung Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) untuk menyelenggarakan program literasi digital pemerintah “UMKM Digital Cemerlang Melaju Bersama Kementerian Kominfo”. Melalui kolaborasi ini, startup digital dan pemerintah dapat membagikan pengetahuan dan teknologi digital secara langsung kepada ratusan UMKM di Indonesia, sementara pemerintah memfasilitasi program tersebut. Selain itu, Kominfo meluncurkan HUB.ID, sebuah platform yang melayani startup lokal pasca-seed untuk mendorong pengembangan dan inklusivitas di tingkat regional.

3. Memprioritaskan keamanan siber

Di era revolusi digital, kita menghadapi berbagai tantangan keamanan siber. Oleh karena itu, memanfaatkan teknologi untuk melindungi ekosistem digital sangatlah penting. Peris.ai, sebuah perusahaan rintisan (startup) yang didanai East Ventures, menyediakan layanan keamanan siber yang berbasis di Indonesia, menjadi yang terdepan dalam memberdayakan organisasi-organisasi di Indonesia melalui layanan keamanan siber yang komprehensif dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk memitigasi ancaman digital secara efektif.

4. Memanfaatkan Artificial Intelligence (AI)

AI dapat merevolusi sektor TIK dan meningkatkan PDB Indonesia sebesar 12% pada tahun 2030 melalui ekonomi digital dan kemajuan teknologi. Pemerintah menyadari potensi  untuk memanfaatkan peluang AI dan telah mengembangkan Strategi Nasional Kecerdasan Buatan (STRANAS KA) 2020-2045 yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Bekerja sama dengan Nodeflux, startup yang didanai oleh East Ventures, pemerintah provinsi DKI Jakarta telah memasang teknologi AI yang disebut VisionAIre di 278 area di kota tersebut untuk memantau batas ketinggian air.  Di Jawa Timur, pemerintah juga telah menerapkan teknologi AI di 11 titik.  

Mengatasi kesenjangan digital dan mewujudkan akses digital yang merata membutuhkan upaya kolaboratif dari pemerintah, organisasi, dan masyarakat. Memprioritaskan adopsi teknologi, berinvestasi pada infrastruktur yang kuat, mempromosikan literasi digital, dan membina kolaborasi merupakan langkah penting dalam memberdayakan populasi yang kurang terlayani dan menciptakan masyarakat digital yang lebih inklusif. Dengan memanfaatkan potensi transformatif dari teknologi, kita dapat membuka jalan menuju masa depan di mana akses digital yang merata menjadi nyata bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Unduh laporan EV-DCI 2023 di sini.