East Ventures

Share

7 November 2023

EV-DCI

Fresh Factory mengubah ‘wajah’ rantai dingin (cold chain) di Indonesia

Pernah berada di puncak karir di beberapa perusahaan besar, tak membuat Larry Ridwan, CEO & Founder, Fresh Factory terbuai dalam karirnya. Pria kelahiran Ambon, Maluku, ini justru ‘meloncat’ lebih jauh dengan membantu memperluas pemasaran perikanan yang ada di Maluku. Pada awal 2020, Larry mulai terjun mengembangkan bisnis keluarga di Maluku, yakni jual beli ikan secara grosir dari para nelayan di Maluku ke Muara Baru, Jakarta. 

Selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi COVID-19 pada tahun 2020, Larry meneliti transaksi jual beli daging dan ikan di marketplace. Menurutnya, harga ikan yang dijual di platform online umumnya bisa tiga kali lebih mahal dibandingkan harga ikan yang ia jual secara grosir di pasar. Selain itu, berjualan daging segar langsung ke tangan pembeli juga lebih sulit jika berjarak jauh karena harus tetap menjaga kualitas dan kesegaran produk tersebut. 

Menurut East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2023, ketidaksetaraan infrastruktur transportasi dan konektivitas rantai pasok yang masih rendah telah menjadi penyebab biaya logistik yang mahal.  

Masalah yang sama juga tercermin pada infrastruktur rantai dingin (cold chain) di Indonesia yang mengalami kekurangan pasokan dan perlu perbaikan signifikan. Menurut data dari Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), jumlah palet gudang pendingin (cold storage) juga masih sangat rendah, yaitu sekitar 2,2 juta palet. Padahal, kebutuhannya mencapai 4 juta palet. Hal ini mengakibatkan banyaknya limbah makanan, dan rendahnya kualitas makanan mentah, makanan olahan, sehingga mengubah rasa dan tekstur makanan itu sendiri. 

Selain makanan segar dan produk olahan, industri rantai dingin juga memiliki spektrum yang sangat luas dan diperlukan di berbagai industri, seperti industri farmasi dan kosmetik, kimia, dan elektronik.

Menyadari masalah tersebut dan besarnya potensi industri rantai dingin di Indonesia, Larry bersama dengan para pendiri lainnya, Widijastoro Nugroho, dan Andre Septiano, mendirikan Fresh Factory, startup layanan penyimpanan sementara (fulfillment) & pengaktif rantai dingin dengan fokus pada makanan segar dan olahan pada tahun 2020. Adapun, East Ventures memimpin pendanaan tahap awal (seed funding) di Fresh Factory di tahun 2022. 

“Fresh Factory membangun jaringan pusat penyimpanan (fulfillment center) rantai dingin terlokalisasi sehingga membantu lebih banyak bisnis Usaha Kecil dan Menengah (UKM) maupun perusahaan besar di Indonesia yang ingin mengembangkan bisnisnya dan menjangkau konsumen lebih luas,” ungkap Larry. 

Selama pandemi, Fresh Factory memiliki 14 pusat penyimpanan (fulfillment center) yang terlokalisasi di Jabodetabek, dengan jarak setiap delapan kilometer. Setiap pusat penyimpanan dilengkapi dengan berbagai fasilitas rantai dingin. Kini, Fresh Factory memiliki 45 pusat penyimpanan di 20 kota, seperti Medan, Jabodetabek, Semarang, Yogyakarta.

Sumber: Data Fresh Factory

Dibandingkan dengan pemain rantai dingin lainnya, Fresh Factory telah menggunakan teknologi dan sistem manajemen pergudangan (warehouse management system) yang menyesuaikan dengan sebagian besar permintaan gudang penyimpanan dingin dalam layanan rantai dinginnya. Hal ini menyesuaikan dengan kebutuhan para mitra sehingga mereka dapat dilayani dengan sistem yang efisien, Standar Operasional Prosedur (SOP), dan orang-orang yang dibutuhkan untuk memastikan produk yang mereka simpan tetap aman dan terjaga kualitasnya. 

Misalnya, sistem pergudangan di Fresh Factory telah terintegrasi dengan marketplace, rantai dingin logistik pihak ketiga (3PL) yang memungkinkan pelacakan dan transparansi bagi para mitra penyewa. Mitra penyewa dapat melihat dan melacak jumlah pasokan barang, kadaluarsa, sampai persediaan gudang, temperatur ruangan dalam gudang melalui website Fresh Factory. 

Kolaborasi sebagai kunci dari masalah logistik

Salah satu kunci untuk menekan biaya logistik yang didorong Pemerintah adalah melalui pengembangan infrastruktur dan peluncuran platform National Logistics Ecosystem (NLE)

Inisiatif NLE yang berasal dari inisiatif Kementerian Keuangan yang bertujuan untuk membangun ekosistem logistik yang terdigitalisasi guna meningkatkan kolaborasi antar pemangku kepentingan. Implementasi NLE memungkinkan perbaikan operasional sektor logistik dan membuka ruang investasi swasta untuk meningkatkan efisiensi. 

Pada tahun 2023, pemain logistik, seperti Fresh Factory dapat mengembangkan strategi pengadopsian teknologi, melakukan diversifikasi bisnis melalui kolaborasi, serta memperluas implementasi ESG.

Fresh Factory telah berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik dengan pelaku ritel, dengan menggandeng 600 anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Selain itu, startup ini juga bekerja sama dengan pemilik gudang, seperti Perum BULOG, PLN Grup, untuk memperluas jangkauan warehouse. Adapun, kerja sama dengan PT Nusantara Card Semesta (NCS) memungkinkan  layanan distribusi cold chain fulfillment center secara lengkap kepada mitra hingga pengiriman ke pelanggan. Dengan kerjasama ini,  Fresh Factory menargetkan peningkatan jumlah gudang hingga 100 unit di akhir tahun 2023 dengan akses lebih dari 50 kota-kabupaten. 

Fresh Factory berharap dengan kolaborasi dan penerapan teknologi tersebut dapat mengubah infrastruktur rantai dingin yang lebih baik di Indonesia, sehingga meningkatkan standar kualitas barang-barang yang membutuhkan perlakuan, khususnya untuk makanan, minuman dan produk olahan, dan berbagai produk lainnya. 

“Dengan infrastruktur rantai dingin yang sedang kami bangun bersama dengan para pelaku lainnya di ekosistem ini, kami berharap bisa menutup kesenjangan dimana setiap orang di Indonesia bisa meningkatkan standar hidupnya dengan memperoleh makanan yang berkualitas dengan harga yang terjangkau,” tutup Larry yang mempunyai mimpi bisa memiliki fulfillment center di 80 kota di seluruh Indonesia. 

Unduh laporan EV-DCI 2023 di sini.