Startup Indonesia yang Layak Mendapat Perhatian di Tahun 2019

14 June 2019

Startup di Indonesia tengah berkembang dengan sangat cepat. Pada bulan April 2019 ini, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia memperkirakan bahwa jumlah startup di indonesia akan bertumbuh sekitar 20 hingga 30%. Hal ini terjadi karena permintaan yang tinggi terhadap solusi digital untuk sektor bisnis, industri, logistik, dan sektor-sektor lain, serta makin cepatnya penetrasi perangkat mobile dan pertumbuhan jumlah populasi masyarakat kelas menengah.

Kami mengumpulkan nama-nama startup yang mendapat investasi dari East Ventures pada semester pertama tahun 2019 ini, yang siap menanamkan pengaruh mereka di pasar Indonesia selama beberapa bulan ke depan.

The Fit Company

Perjalanan The Fit Company bermula pada tahun 2014, ketika para co-founder Jeff Budiman, Prianka Bukit, dan Bambang Bukit mulai mendirikan Kredoaum, sebuah perusahaan distribusi alat dan teknologi kesehatan. Tiga orang tersebut kemudian membuat 20Fit, sebuah konsep ruang olahraga mikro yang menggunakan teknologi Electro Muscle Stimulation (EMS). Konsep tersebut menjadi viral karena 20Fit menjanjikan bahwa latihan selama 20 menit di ruang olahraga mereka bisa memberikan hasil yang sama dengan latihan selama tiga jam di ruang olahraga konvensional.

Perusahaan tersebut kemudian menyadari bahwa latihan olahraga saja tidak cukup, dan melihat kebutuhan akan ekosistem wellness yang menyeluruh untuk para anggota mereka. Hal ini kemudian mendorong mereka untuk meluncurkan dua lini bisnis pelengkap pada tahun 2017: Fit Lokal, sebuah jaringan restoran yang fokus pada makanan yang sehat dan rendah kalori; serta Fitmee, produsen mi instan rendah kalori yang terbuat dari konyaku demi memenuhi kecintaan masyarakat Indonesia terhadap makanan siap saji tersebut.

The Fit Company kini telah menyatukan entitas yang terpisah-pisah tersebut di bawah satu payung besar, bersama konsep bisnis kelima mereka, yaitu Fitstop. Konsep baru ini adalah pilihan ruang olahraga konvensional yang didirikan pada tahun 2018. “Setelah periode inovasi yang berkelanjutan dalam hal produk, kami menyadari bahwa keseluruhan peluang dari pasar yang disebut “wellness economy” tersebut terbuka lebar,” ujar Jeff.

Ketika mengumumkan investasi tahap awal (seed funding) dari East Ventures untuk startup teknologi wellness pertama di Indonesia tersebut pada bulan Januari 2019, Willson Cuaca mengatakan: “Kami percaya bahwa tim The Fit Company memiliki visi yang tepat dan kemampuan eksekusi yang kuat dalam membuka potensi wellness economy di Indonesia.”

Triplogic

Triplogic | Featured Image

Didirikan pada bulan Mei 2017 oleh Oki Earlivan, Rowdy Fatha, dan Krisna Adiarini, Triplogic adalah sebuah startup asal Indonesia yang menyediakan layanan pengantaran last mile menyeluruh yang mencakup logistik, pengantaran, pengemasan, hingga distribusi barang.

Pelanggan dari Triplogic bervariasi dari penjual barang di e-commerce dan perusahaan besar hingga usaha kecil menengah (UKM) dan individu.

Startup ini memanfaatkan titik-titik pengantaran yang mereka miliki di toko-toko lokal dan UKM (dalam bentuk loker pintar dan kotak penyimpanan) untuk melakukan pengantaran ke tempat tujuan dalam waktu tiga jam.

Indonesia saat ini merupakan salah satu dari tiga pasar logistik terbesar di dunia, bersama Cina dan India, dalam hal ukuran pasar dan angka pertumbuhan.

Triplogic telah memiliki tempat tersendiri di industri logistik tanah air. Saat ini, mereka bertanggung jawab untuk mengantarkan ribuan barang setiap harinya di 61 kota di Indonesia. Gross Merchandise Value (GMV) mereka pun tumbuh 34 kali lipat dalam waktu kurang dari dua tahun sejak mereka didirikan.

Lubna.io

Lubna Founders | Photo

Ide untuk mendirikan Lubna.io, platform trading crypto otomatis pertama di Asia Tenggara, telah hinggap di pikiran sang co-founder Kevin Cahya ketika ia tengah bekerja di East Ventures sembari mengelola beberapa aset finansial yang ia miliki.

“Hampir mustahil bagi seorang investor retail untuk mempunyai pekerjaan penuh waktu seperti saya untuk mendapat keuntungan maksimal, karena kami tidak bisa memantau portofolio yang kami miliki sepanjang waktu. Lebih lanjut, saya melihat banyak investor retail, terutama yang masih pemula, mereka memiliki kesulitan untuk mendapat keuntungan karena kurangnya pengetahuan dalam dunia investasi. Trading otomatis adalah solusi yang kami rasa akan bisa mengatasi masalah tersebut,” ujar Kevin.

Tim Lubna, termasuk co-founder Eddy Hartanto dan penasihat Arthur Soerjohadi (yang membawa keahlian dan pengalaman trading mereka yang mendalam), berharap dapat merevolusi cara generasi muda di Indonesia untuk berinvestasi, di mana literasi finansial masih sangat rendah.

Platform satu pintu yang dibuat Lubna memungkinkan para pemula untuk mengotomatiskan aktivitas trading mereka dengan beberapa trading bot yang tersedia untuk menguji coba sistem algoritma Lubna. Di sisi lain, pengguna profesional juga bisa mengotomatiskan strategi trading mereka dan mendapat pemasukan tambahan dengan cara meminjamkan strategi tersebut kepada para pemula.

Stockbit

Stockbit Team | Photo

Stockbit awalnya dibuat untuk menjadi jejaring sosial bagi para trader saham. Namun mereka kini telah berevolusi menjadi aplikasi yang mengintegrasikan fitur jual beli saham, pengumpulan informasi, dan jejaring sosial. Didirikan pada tahun 2013, Stockbit mempunyai keinginan untuk membuat aktivitas investasi di pasar modal bisa menjadi lebih mudah diakses oleh para milenial di Indonesia, yang saat ini telah menunjukkan peningkatan minat untuk berinvestasi.

Menurut data dari Bursa Saham Indonesia (IDX), jumlah investor retail meningkat sebesar 40% di tahun 2018 bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 70% di antaranya merupakan pengguna berusia 21 hingga 40 tahun.

“Terlepas dari potensi keuntungan yang besar, trader pemula di Indonesia masih terintimidasi untuk berinvestasi di pasar modal karena kurangnya pengetahuan, kurangnya akses ke manajer keuangan yang berkualitas, serta biaya yang tinggi untuk mendapatkan layanan penasihat finansial. Mereka sering menghadapi kesulitan dalam mengikuti cepatnya perubahan yang terjadi di pasar modal. Dengan Stockbit, kami berniat untuk menjadikan investasi menjadi mudah dan menghasilkan keuntungan optimal bagi semua orang,” ujar Wellson Lo, co-founder dari Stockbit.

Setelah mengakuisisi aplikasi jual beli reksa dana Bibit pada bulan Februari 2019, Stockbit menambahkan fitur penasihat keuangan otomatis untuk membantu para pengguna dalam membangun portofolio investasi reksa dana dan berinvestasi dengan cara yang lebih optimal.

Advotics

Advotics Founder | Photo

Advotics adalah startup SaaS berbasis cloud dari Indonesia yang bisa membantu perusahaan dalam mendigitalisasi kegiatan dan transaksi offline mereka, sembari mengubah data dari aktivitas-aktivitas tersebut menjadi metrik kuantitatif yang bisa berguna untuk membuat keputusan penjualan, pemasaran, dan operasional yang lebih baik.

Sebelumnya, co-founder Boris Sanjaya, Hendi Chandi, dan Jeffry Tani (semuanya merupakan engineer yang berasal dari latar belakang yang berbeda) menyadari bahwa banyak perusahaan yang masih bergantung pada metode offline untuk mengelola dan memonitor kanal penjualan dan distribusi mereka. Hal ini seringkali menyebabkan banyak pekerjaan manual yang masih menggunakan kertas dan mengurangi waktu untuk fokus pada urusan bisnis dan strategis yang lebih penting.

Platform Advotics telah berhasil meningkatkan produktivitas dari para staf penjualan, menghasilkan peningkatan kunjungan ke toko sebesar 49% setiap harinya. Salah satu solusi inovatif mereka adalah digitalisasi aset dan produk fisik dengan kode QR; hal ini telah diimplementasikan pada lebih dari 100 juta unit produk selama 24 bulan terakhir.

Advotics kini telah berhasil menggaet beberapa perusahaan besar sebagai klien mereka, seperti ExxonMobil, HM Sampoerna (afiliasi dari Phillip Morris International), Danone, Mulia Group, Saint Gobain, Nutrifood, dan Indosurya.

Advotics baru saja mendapat investasi tahap awal (seed funding) sebesar US$2,7 juta yang dipimpin oleh East Ventures pada bulan Mei 2019. Mereka akan menggunakan dana segar tersebut untuk mengembangkan teknologi dalam membuat produk dan solusi teknologi, sembari mempercepat pertumbuhan pengguna.

Willson Cuaca mengatakan, “Perusahaan-perusahaan besar di Indonesia kini tengah dilanda gelombang besar perubahan ke arah transformasi digital. Solusi Advotics bisa membantu para perusahaan besar tersebut dalam memonitor pegerakan tenaga kerja dan produk mereka. Kami percaya bahwa ini baru merupakan awal dari transformasi supply chain di Indonesia, dan kami menyambut tim Advotics ke dalam ekosistem B2B East Ventures.”

Kedai Sayur

Kedai Sayur Si Komo

Didirikan pada akhir 2018, Kedai Sayur mempunyai misi yang sederhana: bekerja sama dengan petani dan beberapa mitra untuk menyelesaikan masalah ketersediaan dan distribusi produk segar seperti sayuran.

Lewat platform mereka, para tukang sayur bisa mendapatkan produk secara langsung dengan cara mengambilnya di titik drop-off terdekat. Mitra Kedai Sayur pun bisa mendaftarkan lokasi mereka sebagai titik drop off untuk para tukang sayur lain. Kedai Sayur juga menyediakan kendaraan pengantaran bernama “Si Komo” untuk para tukang sayur, yang memungkinkan para tukang sayur tersebut untuk menjangkau konsumen dari pintu ke pintu.

Kedai Sayur kini memiliki lebih dari 2.000 tukang sayur sebagai mitra mereka, dan angka tersebut terus tumbuh sekitar 60% setiap bulannya. 80% di antaranya merupakan mitra yang aktif menjual produk mereka, menghasilkan peningkatan Gross Merchandise Value (GMV) sebesar 5 kali lipat antara bulan Januari dan Mei 2019.

Pada bulan Mei 2019, Kedai Sayur mendapatkan pendanaan tahap awal (seed funding) sebesar US$1,3 juta dari East Ventures, yang akan mereka gunakan untuk mengembangkan jaringan mitra dan gudang, serta membuat lebih banyak kendaraan untuk para tukang sayur.

Willson Cuaca mengatakan: “Kedai Sayur memenuhi dua hipotesis East Ventures. Pertama, inklusi teknologi untuk membantu para tukang sayur yang selama ini tidak bisa memanfaatkan teknologi; dan kedua, meningkatkan kemampuan supply chain di Indonesia. Ada kearifan lokal yang menyebabkan tukang sayur tradisional tetap eksis di Indonesia untuk jangka waktu yang lama, dan kami ingin menjaga budaya tersebut dengan sentuhan teknologi.”