Diego Rojas, CEO of Finantier and Keng Low, CPO

Finantier raih pre-seed funding dari East Ventures, membawa Open Finance ke Indonesia dan Asia Tenggara

23 November 2020

Finantier, startup Open Finance yang berbasis di Indonesia, hari ini mengumumkan pendanaan pre-seed yang dipimpin oleh East Ventures dengan partisipasi dari AC Ventures, Genesia Ventures, dan investor-investor lainnya.

Diego Rojas, Keng Low, dan Edwin Kusuma mendirikan Finantier pada pertengahan tahun ini dengan tujuan menyediakan infrastruktur dan data yang dibutuhkan oleh bisnis dalam membangun produk finansial generasi selanjutnya. Finantier membuat platform fintech dan institusi keuangan bisa berkolaborasi dengan aman untuk memberikan konsumen keleluasaan, kenyamanan, dan keamanan dalam memanfaatkan data finansial milik mereka.

Rojas adalah mantan CTO dari beberapa startups di Singapura dan negara lain. Sebagai seorang software engineer, ia memiliki pengalaman puluhan tahun dalam membangun produk fintech untuk perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat (LendingClub), China (Dianrong), dan Asia Tenggara.

Low adalah software engineer dengan pengalaman bekerja Silicon Valley. Sebelum bergabung dengan Finantier, Low adalah Entrepreneur in Residence di East Ventures. Posisi tersebut memberikannya pengalaman bekerja berdampingan dengan perusahaan portofolio East Ventures, seperti Warung Pintar dan Fore Coffee, dalam pengembangan teknologi dan manajemen produk.

Sementara itu, Edwin berpengalaman bekerja di Google dan sempat menduduki posisi C-Level di beberapa perusahaan fintech dalam bidang P2P lending di Indonesia. Ia juga tersertifikasi sebagai anggota Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI).

“Open Finance adalah sebuah kerangka yang dibangun di atas prinsip-prinsip Open Banking yang memberikan konsumen keleluasaan unttuk mengakses data mereka dengan aman dan menggunakannya dengan optimal di berbagai platform,” kata Diego Rojas, CEO Finantier.

Finantier menawarkan Application Programming Interface (API) dan infrastruktur untuk mendukung pengembangan beragam produk fintech. Dengan menggunakan API dan infrastruktur Finantier, perusahaan fintech dan lembaga keuangan bisa mempercepat time-to-market dan memangkas biaya dalam pengembangan solusi yang didesain khusus (tailored)—sehingga baik konsumen maupun bisnis dapat mengambil keuntungan dari ekosistem Open Finance.

“Kami memanfaatkan jejak digital konsumen dan bisnis untuk memberikan mereka akses yang aman di Asia Tenggara ke layanan finansial yang disesuaikan dengan kebutuhan, yang kemudian turut membantu meningkatkan kesejahteraan finansial konsumen,” tambah Keng Low, CPO Finantier.

Inklusi Keuangan

Startup yang saat ini beroperasi di Singapura dan Indonesia ini berencana menggunakan dana investasi untuk merekrut anggota tim dan mengakselerasi pengembangan teknologi. Seiring dengan pertumbuhan perusahaan, Finantier berencana untuk melebarkan sayap ke negara berkembang lain di Asia Tenggara dengan menawarkan solusi yang spesifik untuk tiap wilayah.

Willson Cuaca, Co-founder and Managing Partner East Ventures mengatakan bahwa Finantier akan membantu memenuhi kebutuhan sekitar 139 juta orang di Indonesia yang masih belum bisa keluar dari kategori unbanked dan underbanked.

Berdasarkan East Ventures Digital Competitiveness Index 2020, kesenjangan terbesar dalam perkembangan ekonomi digital Indonesia berada dalam kategori inklusi keuangan. Laporan tersebut menunjukkan jurang perbedaan yang lebar antara penduduk di Jawa dan pulau lainnya dalam hal akses ke layanan keuangan, nilai pinjaman melalui fintech, dan transaksi pembayaran digital.

“Kesetaraan akses ke layanan finansial akan menciptakan dampak berganda (multiplier effects) bagi perekonomian Indonesia. Saat ini, ratusan perusahaan fintech bermunculan dan menawarkan solusi masing-masing untuk meningkatkan inklusi keuangan. Kami percaya bahwa Finantier akan membantu perusahaan-perusahaan tersebut menciptakan lebih banyak produk dan layanan ke jutaan penduduk Indonesia yang masih belum bisa menikmati keuntungan akses finansial,” kata Willson.

Dalam beberapa kesempatan, Bank Indonesia mendorong institusi keuangan untuk berkolaborasi dengan perusahaan fintech untuk menyertakan lebih banyak UMKM ke dalam perekonomian digital Indonesia. Menurut BI, dari 65 juta UMKM di Indonesia hanya 13% atau sekitar 8 juta yang telah menggunakan produk dan layanan digital.

Per pertengahan 2020, telah ada lebih dari 450 perusahaan fintech berizin yang beroperasi di Indonesia. Sebanyak 40% dari perusahaan-perusahaan tersebut adalah perusahaan P2P lending.

“Perusahaan P2P lending  seringkali kesulitan dalam menyalurkan pinjaman ke individu dan UMKM. Biasanya, hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi atau karena perusahaan fintech tidak bisa mendapatkan gambaran finansial yang komplet dari calon peminjam, padahal data tersebut dibutuhkan untuk mengurangi risiko pinjaman dan menekan biaya,” kata Edwin Kusuma, COO of Finantier yang berpengalaman mengelola perusahaan P2P lending.