Budi Karya Sumadi, Minister of Transportation
East Ventures

Share

5 April, 2023

Leadership

Digitalisasi bantu tingkatkan kompetensi dan integritas: Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan Indonesia

Indonesia diperkirakan akan menghadapi ketidakpastian global akibat resesi, krisis energi, dan tensi geopolitik yang berdampak terhadap berbagai sektor. Strategi apa yang disiapkan pemerintah untuk menghadapi fenomena tersebut? terutama yang terkait dengan sektor Perhubungan?

Presiden mengaku puas dengan kinerja kita sebagai tuan rumah G20 tahun lalu. Akan tetapi beliau menekankan bahwa tahun depan akan terjadi resesi akibat dampak beberapa hal. Ketika terjadi ketidakpastian, sektor transportasi menjadi pertama yang terdampak seperti saat pandemi COVID-19. Kementerian Perhubungan harus lebih mengantisipasi isu ketidakpastian tersebut. 

Salah satu yang paling krusial adalah transportasi udara, karena sektor yang padat modal dan mudah mengalami perubahan apabila ada tekanan ekonomi. Oleh karena itu saya sampaikan kepada teman-teman saat itu, pelajarannya adalah kita sedikit kalang kabut, kemudian kita terapkan proses pembatasan, dan akhirnya pemulihan. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi tumbuh 5,3% serta Transportasi dan Pergudangan tumbuh 19,9%. Artinya pemulihan kita memang cepat, akan tetapi masih tertinggal. Hal tersebut memang butuh waktu. 

Strategi yang kami lakukan adalah berdasarkan Indonesia sentris, tidak hanya di Pulau Jawa. Misalnya kami meresmikan KA Trans Sulawesi di Sulawesi Selatan dan membangun bandara di Papua. Kami juga mendorong pembiayaan kreatif untuk membiayai proyek pembangunan infrastruktur tersebut tanpa bergantung pada APBN. Jadi ketika APBN terdampak resesi, kami akan siapkan pembiayaan kreatif. Hal ini relevan dengan strategi menghadapi resesi bahwa digitalisasi adalah sarana yang mudah bagi kami untuk menjangkau masyarakat.

Kendala apa saja yang dihadapi Kementerian Perhubungan dalam upaya transformasi digital di sektor transportasi?

Kendala yang paling terasa adalah SDM. Ini berkaitan dengan pemahaman dan kesadaran yang belum merata. Misalnya proses pengajuan perizinan oleh pihak swasta. Hal ini tentunya membutuhkan proses yang mahal, lama, dan sulit. Kami kemudian melakukan perbaikan untuk mencapai efisiensi. Hal yang sudah kami lakukan adalah meluncurkan aplikasi Sistem Elektronik Hubla Terintegrasi (SEHATI). Dengan adanya digitalisasi mereka yang di daerah jadi ada kesadaran. Hal lainnya adalah integritas yang sedang diupayakan perbaikan pada pejabat di daerah. 

Jarak memang menjadi masalah, akan tetap terbantu dengan digital. Jadi digitalisasi sangat membantu kita bisa berkompetisi secara langsung dan meningkatkan kesadaran, kemampuan, serta integritas. Karena saat ini integritas tersebut sering diabaikan, jadi kami terpaksa memberikan penghargaan kepada teman-teman semua. 

Bagaimana perkembangan digitalisasi sektor logistik dan perhubungan laut? Apa tantangan yang dihadapi pemerintah?

SDM dan ego sektoral. Contohnya di perhubungan darat. Kelompok-kelompok asosiasi saling tarik-menarik untuk mempertahankan egonya masing-masing. Terkait Over Dimension Over Load (ODOL) juga dipertanyakan efektivitasnya. Jadi kalau ada best practices yang bagus akan membantu kami untuk menerobos ketidakmauan para petugas untuk melakukan pengecekan melalui peran back office. Karena butuh ketegasan di lapangan agar pemilik armada menurut, kemudian baru pajaknya kita amankan dan fokus pada muatan dari pelabuhan. Contoh lain ego sektoral adalah bis. Mereka tidak mau digabungkan dalam satu platform. Hal ini berdampak pada terminal yang tidak terisi dan kemacetan dimana-mana. 

Namun dalam tiga tahun terakhir kita belajar dari best practices, bagaimana cara yang paling tepat untuk melakukan hal tersebut, termasuk soal transportasi laut. 

Saya rutin berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut untuk mengatasi permasalahan di sektor tersebut. Contohnya pelabuhan pengekspor ikan, bagaimana kami mengidentifikasinya secara baik, memantau mereka sehingga jumlah ekspor terukur dengan baik. Terkait pemantauan pergerakan kapal kami juga memasang CCTV yang terdigitalisasi dan terhubung dengan satelit. Ini butuh best practices. 

Kami pikir India dan China memiliki sedikit kesamaan dengan kita. Terutama India, berkaitan dengan korupsi. Jadi saya nanti ke India untuk melihat bagaimana mereka mengontrol jumlah muatan yang keluar. Ketika ada satu best practices, kami coba terapkan di satu tempat dan lihat apakah berdampak baik. Kami juga masih berusaha mencari formula terbaik, misalnya mengirim anggota TNI ke daerah. Sekitar 40% pelabuhan yang ada tidak melakukan pungutan PNBP, 60% lainnya terpantau akan tetapi jumlahnya tidak pernah terlihat. 

Jadi, kebocoran memang terjadi di SDM. Oleh karena itu kami pertahankan SDM yang paham dan berintegritas. Ego sektoral juga memang terjadi. Ego sektoral itu sangat mahal dan menjadi salah satu hal yang paling kami rasa bermasalah.


Unduh East Ventures – Digital Competitiveness Index 2023 di sini.