Back
Avina Sugiarto, Partner at East Ventures
East Ventures

Share

10 November, 2022

Insights

Startup tahap awal mampu menerapkan praktik ESG sejak awal, begini caranya

Tahun ini, bisnis berkelanjutan menjadi kata kunci karena semakin banyak investor dan pemangku kepentingan meminta perusahaan untuk lebih sadar akan bisnis mereka dan menerapkan prinsip-prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata kelola (LST/ESG). Banyak asumsi menilai bahwa keberlanjutan hanya cocok untuk perusahaan tahap pertumbuhan dan perusahaan besar. Apalagi, keberlanjutan seringkali lebih erat dikaitkan dengan tindakan hijau, produk ramah lingkungan, dan hal lainnya.

Namun, keberlanjutan lebih dari sekedar tentang lingkungan. keberlanjutan Perusahaan memiliki tiga pilar: ekonomi, lingkungan, dan sosial. keberlanjutan dan variabel ESG yang mendasarinya juga dapat diterapkan pada startup tahap awal dari aspek-aspek tersebut.

Dalam tahap awal ini, founder meluangkan waktunya sebagian besar untuk mencari tahu bagaimana mengembangkan produk atau layanan yang tepat untuk pasar, membangun basis pelanggan, dan membangun pendapatan atau daya tarik yang kuat. Sebagai perusahaan modal ventura dengan eksposur luas ke startup digital di tahap awal, kami memahami berbagai tantangan para founder startup. Meskipun tidak wajib bagi perusahaan rintisan untuk mencapai bisnis yang berkelanjutan pada tahap ini, kami telah melihat jumlah pendiri perusahaan rintisan tahap awal yang berkembang pesat yang memperhatikan ESG dan menanamkan prinsip-prinsip ESG ke dalam DNA perusahaan rintisan mereka, untuk menetapkan dasar bagi pembangunan berkelanjutan dan perusahaan yang berpengaruh di masa depan. Sebagai modal ventura, kami dapat membantu pengembangan kapasitas ESG, merealisasikan kebijakan dan menerapkannya pada perusahaan.

Pada tahap awal (seed), perusahaan startup dapat menerapkan beberapa prinsip ESG, dengan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dan integritas bisnis. Misalnya, memperlakukan tenaga kerja dengan upah yang adil, tidak mempekerjakan pekerja anak, memberikan kesempatan yang sama untuk semua jenis kelamin, karyawan, dan anggota dewan, meningkatkan transparansi bagi vendor dan pemangku kepentingan lainnya, dan seterusnya. 

Menerapkan praktik-praktik ESG pada fase awal akan menguntungkan startup dalam jangka panjang. Misalnya, membangun citra merek dan reputasi perusahaan dapat memperoleh kepercayaan pelanggan dan menarik karyawan berkaliber lebih tinggi. Dari sisi manajemen risiko, perusahaan rintisan yang sadar akan risiko ESG akan memiliki posisi yang lebih baik untuk memitigasi risiko tersebut, dan memiliki kinerja dan kelangsungan hidup yang jauh lebih tinggi. Yang terpenting, mengadopsi ESG dan mempertimbangkan dampak yang sesuai dengan visi dan misi perusahaan dapat membantu dengan arah strategis dan kemungkinan pendanaan, yang merupakan aspek penting bagi banyak startup.

Ada beberapa cara untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip ESG ke dalam bisnis startup, terutama ketika founder baru saja mendirikan perusahaannya.

1. Identifikasi faktor risiko ESG yang relevan dan material dalam bisnis

Pendiri startup tahap awal dapat mengidentifikasi dan menyadari faktor risiko ESG yang terkait dengan bisnis mereka dan dalam industri tempat mereka beroperasi. Kami percaya tata kelola perusahaan yang baik dan praktik integritas bisnis sangat penting untuk ditanamkan oleh pendiri dan tim manajemen sejak dini. Misalnya, mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku; standar transparansi dan pengungkapan yang baik; mekanisme peniup peluit; perlindungan keamanan siber dan data. Kami menyarankan para pendiri untuk membangun kapasitas ESG seiring pertumbuhan startup, karena iterasi kecocokan pasar produk dan model bisnis dapat mengubah eksposur startup terhadap risiko dan peluang ESG.

Pada faktor lingkungan dan sosial, pendiri  startup dan manajemen perlu memastikan standar kesehatan dan keselamatan kerja, baik dalam bahan maupun operasi; kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan, seperti tidak menggunakan pekerja anak, memperlakukan pekerja dengan upah yang adil, dan lain-lain.

2. Menilai dampak potensial anda

Selain mengidentifikasi faktor risiko LST, perusahaan dapat menilai dan mengidentifikasi potensi dampak positif yang dapat diberikan oleh produk dan layanannya. Menyelaraskan dengan kerangka kerja atau metrik, seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa, akan memudahkan perusahaan dalam mengembangkan kisah dampak, mengukur, dan melaporkan saat mereka membutuhkannya.

Misalnya, portofolio kami, TreeDots, platform yang menyediakan pasokan makanan berlebih dan tidak sempurna dari pemasok ke pelanggan, bertujuan untuk mengatasi masalah kehilangan dan pemborosan makanan selama distribusi. Dampaknya selaras dengan SDG PBB Nomor 2 (Mengakhiri Kelaparan) dan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Contoh lainnya adalah portofolio startup biotech kami dalam menangani masalah kesehatan di Indonesia. Pertama, Nusantics, yang fokus dalam pengujian mikrobioma dan mikroba. Portofolio lainnya adalah Nalagenetics, yang fokus pada pemberian resep yang akurat  dan respons obat melalui tes DNA. Kedua portofolio tersebut memiliki tujuan yang sama dalam menyelaraskan SDG PBB Nomor 3: Kesehatan yang Baik  dan Kesejahteraan.

3. Berkomunikasi dan terlibat dengan pemangku kepentingan

Berkomunikasi dan terlibat dengan pemangku kepentingan, termasuk investor, managemen, pekerja, vendor, dan pelanggan, dapat menandakan bahwa perusahaan startup serius dalam menerapkan kerangka kerja ESG. East Ventures mendorong portofolio kami untuk berkomunikasi dengan kami, membantu mereka menciptakan nilai dan mencari cara terbaik untuk mencapai keberlanjutan.

East Ventures, modal ventura pertama di Indonesia yang bergabung dengan penandatangan Principles for Responsible Investment (PRI) , yang didukung oleh PBB, percaya bahwa kami perlu memimpin jalan bagi investor dan manajer aset di Indonesia untuk menerapkan prinsip-prinsip ESG. Menciptakan dampak positif telah menjadi DNA kami dalam dekade terakhir. Oleh karena itu, kami ingin melanjutkan dan mendorong prinsip-prinsip keberlanjutan dari ujung ke ujung, baik dalam proses investasi, dalam pemilihan investasi kami dan portofolio yang ada (lihat Laporan keberlanjutan East Ventures untuk lebih detil).

Dalam proses investasi, prinsip-prinsip berkelanjutan diterapkan, mulai dari penyaringan (screening), uji tuntas (due diligence), tinjauan perusahaan (company review), dan keputusan investasi. Untuk portofolio kami yang ada, kami terus memantau dan membantu mereka dalam melaksanakan prinsip-prinsip ESG, membawa penciptaan nilai (value creation), pemantauan portofolio, dan juga tahap keluar (exit). Prinsip-prinsip ini juga berlaku lebih metodis untuk tim kami, karena kami menerapkan pengembangan kapasitas untuk tim investasi. Oleh karena itu, tim investasi memiliki pemahaman yang mendalam untuk tidak hanya dapat menganalisis peluang pasar, kinerja komersial dan keuangan, tetapi juga memastikan kebijakan ESG diterapkan dalam portofolio.

***

Oleh Avina Sugiarto, Partner East Ventures.

Saksikan wawancara Avina bersama Kompas di CEO Talks berikut.