Rekosistem's waste management solution for Indonesia
East Ventures

Share

11 Mei 2023

From Portfolios

Melihat peluang dari sampah: Perlunya startup teknologi pengelolaan limbah

Indonesia pernah mengalami tragedi dahsyat yang disebabkan oleh pengelolaan sampah yang kurang baik. Longsor tahun 2005 di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat, menelan 157 korban jiwa dan memusnahkan dua desa. Bencana ini bahkan diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional setiap tanggal 21 Februari untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya praktik pengelolaan sampah yang benar dan mencegah kejadian serupa.

Tragedi ini hanyalah sebagian kecil dari permasalahan. Indonesia menghasilkan jutaan ton sampah setiap hari dan menjadi salah satu negara penghasil sampah terbesar di dunia. Negara ini juga memiliki limbah kota tertinggi di Asia Tenggara dan menciptakan masalah penting yang mempengaruhi kesehatan masyarakat, lingkungan, dan ekonomi.

Namun, di tengah krisis ini terdapat peluang. Para entrepreneur dan inovator dapat menciptakan solusi berkelanjutan yang dapat mengubah praktik pengelolaan sampah di Indonesia. Startup climate-tech seperti Rekosistem memimpin dengan menyediakan layanan pengelolaan limbah dan daur ulang untuk meningkatkan pengelolaan sampah. Ernest, CEO dan Co-Founder Rekosistem, memberikan gambaran tentang pengelolaan limbah, pendekatan solusi, dan cara memulai bisnis teknologi iklim.

Mengatasi masalah sampah di Indonesia

Ernest Layman dan teman kuliahnya Joshua Valentino melihat potensi untuk mengubah sampah menjadi harta karun. Pada November 2018, mereka memulai usahanya sebagai UMKM pengelolaan  sampah ke energi bernama KAHIJI yang menghasilkan sumber energi terbarukan dari sampah organik. Visi mereka berlanjut di tahun 2021 dengan meluncurkan Rekosistem untuk membantu masyarakat menjalani gaya hidup ramah lingkungan dengan membuat pendaurulangan sampah mudah diakses di Indonesia.

Solusi inovatif Rekosistem merevolusi industri pengelolaan limbah. Mereka menawarkan layanan pengumpulan dan daur ulang sampah melalui Repickup untuk mengumpulkan sampah dan menyimpannya di Reko Waste Station, lokasi drop point mereka. Seluruh sampah yang dikumpulkan akan dikelola di Reko Waste Hub, sebuah fasilitas pemulihan material di mana sampah dipilah ke dalam sekitar 50 kategori sehingga setiap jenis sampah dapat diproses di fasilitas daur ulang yang tepat. Dengan lebih dari 5.500 ton limbah berhasil diproses, Rekosistem telah melayani lebih dari 20.000 rumah and 100 bisnis di sekitar hub. Mereka juga membantu pekerja pengelola sampah dalam ekosistemnya untuk mengurangi pengeluaran dan meningkatkan pendapatan dengan menstandarkan proses operasional dan meningkatkan recycling rate, sehingga tidak ada lagi sampah daur ulang yang terbuang.

Rekosistem memberi dampak signifikan pada praktik pengelolaan sampah di Indonesia. Mereka berhasil berkolaborasi dengan pemerintah, perusahaan, dan RT/RW untuk mengelola sampah secara berkelanjutan. Kemitraan strategis mereka dengan Badan Lingkungan Hidup DKI Jakarta merupakan bukti komitmen mereka untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat untuk masyarakat.

Menyortir untuk solusi rantai nilai daur ulang

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) hanya 10% masyarakat Indonesia yang sudah memilah sampah. Hasilnya? Limbah padat yang dihasilkan dari rumah, bisnis, dan industri dibakar atau dibuang secara sembarangan sehingga mencemari udara dan tanah dengan zat beracun seperti karbon monoksida, formaldehida, dan arsenik.

Namun, masih ada harapan. Rekosistem membangun fasilitas Reko waste station dan hub dimana sampah masyarakat dikelola dalam kerangka kerja reuse, recycle, dan keberlanjutan yang terbarukan. Fasilitas pemilahan mereka adalah langkah awal yang dapat menempatkan sampah dari tempat pembuangan akhir ke tempat pengolahan yang lebih bertanggung jawab.

Pendekatan teknologi mereka juga mencakup aplikasi online yang mengkoordinasikan jadwal pengumpulan sampah rutin di lokasi tertentu, sehingga memudahkan orang untuk mendaur ulang. Rekosistem menawarkan sistem poin reward untuk setiap kilogram sampah daur ulang yang diserahkan yang dapat ditukarkan dengan saldo e-wallet. Ini adalah inovasi baru yang mendorong masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya daur ulang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Mereka juga tidak berhenti di situ, teknologi mereka dapat menghubungkan ekosistem limbah mereka dengan perumahan, gedung, dan consumer brands untuk melacak perjalanan limbah dan membuat peta jalan yang lebih jelas menuju Net Zero melalui pendekatan waste circularity.

Tips membangun startup pengelolaan sampah

Ernest mengatakan, peran startup pengelolaan sampah sangat bermanfaat dalam menurunkan dampak lingkungan dari sampah, terutama dengan pengelompokkan agar lebih mudah diproses. Dia mengidentifikasi tiga strategi penting untuk memulai startup di sektor ini:

1. Fokus pada hal penting

Berkonsentrasi pada sampah yang akan dikelola dalam proses bisnis itu penting karena sampah terdiri dari berbagai jenis. Klasifikasi memungkinkan identifikasi area untuk peningkatan dan penerapan solusi yang ditargetkan untuk mengatasi masalah ini.

2. Keahlian di bidangnya

Pengelolaan sampah memerlukan beberapa proses: pengumpulan, pengangkutan, pemilahan, pengolahan, dan pembuangan. Mengembangkan solusi hanya untuk satu sektor dapat menghasilkan keuntungan besar. Disertai dengan edukasi tentang unique selling point untuk menggugah minat masyarakat dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan sampah.

3. Perluasan dan kolaborasi

Di dunia di mana teknologi dan model bisnis terus berkembang, organisasi yang dapat berkolaborasi dan berkreasi secara efektif lebih mungkin bertahan dari gangguan pasar dan mempertahankan keunggulan kompetitif. Dengan kolaborasi perusahaan akan memakan waktu lebih sedikit untuk meningkatkan produktivitas dan menyelesaikan masalah, keduanya akan berdampak dalam menciptakan penghasilan perusahaan yang lebih cepat.

“Tantangan untuk bisnis limbah adalah bagaimana kita dapat fokus pada hal-hal yang layak secara ekonomi. Oleh karena itu, kami perlu membuktikan kepada semua orang bahwa model bisnis ini ramah lingkungan dan layak secara ekonomi,” kata Ernest.

Kesimpulannya, pengusaha harus menemukan sweet spot untuk memenuhi kelayakan ekonomi dan produk yang dapat diskalakan dengan mudah karena mengatasi masalah sampah. Kolaborasi juga penting untuk mencapai tujuan perusahaan yang, jika dilakukan secara mandiri, tampaknya memakan waktu lebih lama. Startup Anda dapat meningkatkan dan menambah nilai layanan Anda melalui kemitraan ini.

Anda juga dapat membantu menjaga lingkungan dan memberikan solusi terkait masalah limbah. Bergabunglah bersama kami di program Climate Impact Innovations Challenge oleh East Ventures dan Temasek Foundation, tempat para calon entrepreneur mewujudkan ide inovatif untuk membantu mengatasi empat masalah utama: Energi Terbarukan, Pangan & Pertanian, Mobilitas, dan Kelautan

Pelajari lebih lanjut tentang Climate Impact Innovations Challenge dan kirimkan inovasi Anda disini.