Back
The role of fintech lending to Indonesia’s agribusiness sector
East Ventures

Share

29 September, 2022

Insights

Peran pinjaman online di sektor agribisnis Indonesia

Pinjaman online memperluas akses keuangan dan meningkatkan produktivitas pertanian.

Sektor agribisnis memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi Indonesia. Agrikultur memberikan kontribusi 14% dari PDB negara pada tahun 2020 dan mempekerjakan 29% dari tenaga kerja Indonesia. Namun, sebagian besar petani Indonesia masih hidup dalam kemiskinan. Menurut data World Bank, sekitar setengah dari petani Indonesia adalah petani kecil yang berpenghasilan rata-rata US$ 3.2 per hari. Kondisi serupa juga terlihat di sektor perikanan, di mana sekitar 11.34% masyarakat di sektor perikanan Indonesia tergolong miskin.

Ada beberapa faktor penyebab kemiskinan bagi pekerja di industri ini, antara lain kurangnya optimalisasi digital, masalah rantai pasokan, dan kurangnya akses keuangan. Dalam hal akses keuangan, hanya 5% dari total pinjaman disalurkan ke sektor ini. Industri ini didominasi oleh petani kecil, dimana sebagian besar tidak memiliki sertifikat resmi atas tanah mereka, sebuah nilai penting yang dapat digunakan untuk menjaminkan investasi pertanian. Masalah ini memperumit akses petani kecil Indonesia ke kredit pedesaan.

Terkait produksi pertanian, terdapat isu pada jeda waktu antara investasi yang diinput dan realisasi keuntungan. Selain itu, perubahan cuaca secara tiba-tiba juga dapat merusak hasil panen. Kedua faktor ini menimbulkan masalah yang saling terkait di sisi persediaan dan pasar. Lembaga keuangan menghadapi risiko sistemik dalam menyalurkan kredit ke sektor pertanian. Sementara para petani dan nelayan menghadapi risiko di luar kendali dalam upaya memperoleh investasi untuk meningkatkan produktivitas mereka.

Kehadiran fintech dapat menjembatani kesenjangan akses keuangan di agribisnis, mulai dari pembiayaan hingga dukungan teknologi untuk meningkatkan digitalisasi. Menurut Fintech Report: The Convergence of Digital Financial Service pada tahun 2021 menunjukkan sekitar 3,6 juta orang atau unit bisnis merupakan pasar potensial untuk mengakses pembiayaan dari fintech. Dari jumlah tersebut, 65% berasal dari sektor pertanian, 32% dari sektor peternakan, dan 3% dari sektor perikanan.

Baik fintech maupun agritech dapat membantu mengelola risiko terkait pertanian dengan memberikan data kepada pemberi pinjaman untuk penjaminan dan mitigasi risiko yang lebih baik. Pemahaman yang lebih baik tentang kapasitas produksi dan keuangan petani dan nelayan akan memungkinkan kredit yang lebih fleksibel untuk masuk ke lanskap agribisnis Indonesia.

“Di masa lalu, banyak perusahaan pinjaman online yang gagal karena credit scoring sangat sulit dilakukan. Namun, hal ini ini menjadi lebih mungkin sejak 2019, karena banyak perubahan di rantai pasokan, sehingga ada cara yang lebih baik untuk menilai kelayakan kredit. Dalam agribisnis, perusahaan fintech sudah bersedia menyediakan jasa ini, didorong oleh peluang besar dari para pengusaha. Pada saat yang sama, pergerakan menuju akses dan inklusi keuangan ini dilandaskan pada adopsi teknologi di sektor fintech dan agritech yang sudah matang. Oleh karena itu, sekarang adalah waktu yang tepat untuk membantu masyarakat sekitar dan mendorong keberlanjutan dan inklusi keuangan kepada kelompok masyarakat yang terpinggirkan di bagian bawah piramida masyarakat,” kata Melisa Irene, Partner East Ventures.

Fintech telah terbukti menjadi vertikal dengan pertumbuhan tercepat dalam jumlah putaran pendanaan di Asia Tenggara sejak tahun lalu. Indonesia sendiri memiliki beberapa mega-round sebesar US$ 100 juta dan lebih. Pada paruh pertama tahun 2022, perusahaan fintech Indonesia telah mengumpulkan total US$ 1.8 miliar dari 51 deal, melampaui total pendanaan US$ 1.6 miliar pada tahun 2021. Angka ini termasuk perusahaan portofolio East Ventures, Xendit, dengan layanan utama payment gateway, yang mencatat deal terbesar pada semester pertama 2022 dengan US$ 300 juta untuk pendanaan Seri D-nya.

Mendorong kolaborasi fintech dan agritech untuk meningkatkan inklusi keuangan di bidang pertanian

Sebagai perusahaan yang percaya pada ekosistem digital Indonesia sejak 2009, East Ventures terus mendorong kolaborasi di antara portofolio serta ke luar ekosistem kami. Hal ini tampak di sinergi antara berbagai perusahaan portofolio fintech dan agritech kami, dengan tujuan untuk mempercepat inklusi keuangan di sektor agribisnis.

Menurut saya, evolusinya adalah menjalankan kolaborasi dengan banyak pemberi pinjaman fintech di sektor agritech. P2P lending mengandalkan agritech dalam mengkurasi petani atau nelayan yang memiliki skor kredit lebih tinggi, karena cara penilaian skor kreditnya mungkin sedikit berbeda dari yang lain. Penilaian ini lebih mempelajari tipe perilaku dan melalui studi kualitatif dan observasi di lapangan. Beberapa teknik akan memerlukan wawancara dengan orang-orang yang mereka kenal dan semua teknik ini  digabungkan. Sangat sulit  jika hanya satu startup untuk melakukan ini semua, jadi mereka perlu bekerja sama dalam hal ini.

Misalnya, platform pinjaman P2P, Komunal telah menyalurkan pinjaman ke industri agribisnis sejak kuartal pertama tahun 2020. Total penyaluran pinjaman ke sektor tersebut telah mencapai IDR 200 miliar di seluruh negeri, termasuk Indonesia Timur. Per Agustus 2022, Komunal memiliki 200 entitas agribisnis sebagai penerima pinjaman. Di antaranya adalah dua perusahaan portofolio agritech East Ventures, Chickin dan Pasarnow.

Bantuan keuangan yang disalurkan Komunal diharapkan dapat mendorong produktivitas klien pinjaman di sektor pertanian. Komunal bekerjasama dengan mitra strategis di setiap subsektor industri agribisnis untuk membentuk ekosistem dari hulu hingga hilir untuk memitigasi risiko. “Melalui pendanaan kami, klien agritech kami telah mendukung ribuan petani di Indonesia,” kata Hendry Lieviant, Co-Founder dan CEO Komunal.

Di sisi permintaan, Chickin mengelola risiko yang terkait dengan pinjaman fintech dengan menilai keseluruhan latar belakang petani, laporan & indikator kinerja, dan jaminan. Chickin melaporkan bahwa permintaan pinjaman mereka saat ini sekitar 33 miliar rupiah, sedangkan permintaan pinjaman untuk seluruh pasar yang dapat dilayani mencapai 100 triliun rupiah untuk 170.000 petani di seluruh Indonesia. Selain pinjaman, Chickin mendukung operasi dengan menyediakan teknologi IoT dan SaaS serta layanan konsultasi kepada para petani, untuk meningkatkan produktivitas dan kelayakan kredit mereka.

“Dengan fintech, peternak dapat memperoleh modal kerja, dengan persyaratan yang mudah untuk mendanai kegiatan operasional mereka sepanjang siklus panen budidaya unggas yang cepat. Fintech dan Chickin dapat membantu peternak dengan skema off-take atau pembelian sehingga dengan jaminan ini mereka dapat fokus ke budidaya,” kata Tubagus Syailendra, Co-Founder dan CEO Chickin.

Di sektor perikanan, Aruna percaya bahwa Indonesia memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar yang dapat dimaksimalkan dengan intervensi fintech dalam memberikan akses permodalan. Indonesia memiliki sekitar tiga juta nelayan, di mana sekitar 40.000 nelayan telah bergabung dalam jaringan Aruna. Aruna telah menetapkan literasi keuangan dan perkenalan teknologi sebagai prioritas, untuk mendukung pelaksanaan program pinjaman di masyarakat pesisir. Saat ini, Aruna bekerja sama dengan platform P2P lending syariah, ALAMI dan Koinworks dalam mendukung pembiayaan bagi nelayan. Semuanya adalah bagian dari ekosistem East Ventures.

ALAMI mulai memberikan modal kerja kepada petani sejak tahun 2020, dengan model Buy Now, Pay Later (BNPL). Saat ini, ALAMI mendukung lebih dari 1,700 petani dengan perkiraan total eksposur IDR 140 miliar, dan bertujuan untuk memperluas jangkauannya ke lebih banyak sub-sektor pertanian.

Fintech dapat mengisi kesenjangan ini dengan menggunakan konsolidasi data yang gesit dan komprehensif untuk penilaian risiko, bersama agritech yang dapat memberikan solusi teknologi untuk mentransformasi sektor pertanian,” kata Dima Djani, Co-Founder dan CEO ALAMI.

“Kami akan terus mendorong kolaborasi dalam ekosistem kami, tidak hanya untuk membantu perusahaan portofolio kami dengan kemitraan potensial dan mendorong bisnis yang berkelanjutan, tetapi kami juga dapat membawa inklusi keuangan yang lebih luas kepada kelompok-kelompok masyarakat di piramida bawah,” tambah Melisa.