Back
EV Founders Gathering 2022
East Ventures

Share

24 Agustus, 2022

Insights

Cara startup founders menavigasi “musim dingin” di Indonesia yang cerah

Sektor teknologi menghadapi berbagai tantangan ekonomi global akibat situasi geopolitik dan kekhawatiran akan terjadinya resesi di Amerika Serikat (AS). Kita  melihat ledakan pemberitaan mengenai krisis global dan berbagai efek negatifnya pada para pemain di industri teknologi, termasuk informasi mengenai turunnya valuasi startup dan operasi bisnis, serta pemotongan jumlah karyawan dan sulitnya mendapatkan pendanaan.

Bagaimana seharusnya para pendiri startup melalui krisis ini? Bagaimana East Ventures memposisikan dirinya dalam situasi ‘musim dingin’ di Indonesia yang cerah ini?

East Ventures berbagi pemikiran dengan semua pendiri startup di ekosistem kami pada Founders Gathering yang diadakan pada 19 Agustus 2022 di Jakarta, Indonesia. Kami turut mengundang beberapa pakar pasar modal untuk menambah perspektif makroekonomi dan pasar publik.

Sebagai perusahaan modal ventura (venture capital / VC) yang berdiri sejak awal di Indonesia, kami  melihat situasi ini sebagai bagian dari siklus investasi. Kami beruntung memiliki ekosistem yang sangat luas dengan lebih dari 250 portofolio dan lebih dari 450 pendiri startup. Dengan demikian, setiap pendiri startup dapat memanfaatkan kekuatan mereka untuk saling membantu selama masa sulit.

Untuk semua pendiri startup, kita harus fokus pada bisnis inti, meningkatkan unit ekonomi, dan mengeksekusi dengan baik, daripada terganggu oleh hal-hal kecil, atau memperluas layanan ke negara lain. Secara khusus, pendiri startup tahap awal harus fokus untuk menemukan kecocokan produk terhadap pasar (product market fit), mampu mengartikulasikan bagaimana Anda mendapatkan kecocokan pasar produk, dan tahu bagaimana Anda akan mengembangkannya sebelum memikirkan keseimbangan antara pertumbuhan pengguna dan profitabilitas.

Sebagai ilustrasi, perenang yang baik tidak peduli dengan cuaca, apakah itu hujan, cerah, atau musim dingin. Musim tidak menghilangkan kemampuan mereka tetapi mereka beradaptasi. Hal yang sama berlaku untuk lingkungan pendanaan. Jika Anda seorang pendiri yang baik, apakah itu musim dingin atau musim panas, Anda tidak perlu khawatir.

Sebagai investor, kami tidak akan pernah memperlambat investasi terutama pada tahap awal meskipun pasar saham sedang tidak baik atau adanya penyesuaian valuasi. Kami hanya melambat jika tidak ada pendiri yang baik. Meskipun kami telah berada di pasar selama 13 tahun, kami melihat masih ada banyak peluang di Indonesia. Oleh karena itu, kami sangat optimis terhadap Indonesia. Kami juga belum lama ini telah menutup fund kami baru-baru ini.

Perspektif pasar modal tentang sektor teknologi

Pasar modal Indonesia dianggap sebagai salah satu pasar dengan kinerja terbaik secara global sejak awal tahun hingga saat ini (YTD) berkat indikator ekonomi makro Indonesia yang kuat dan harga komoditas yang tinggi. Namun, perspektif dan dinamika mengenai nilai perusahaan teknologi telah banyak berubah di antara investor ekuitas. Hal tersebut tercermin dari volatilitas harga saham perusahaan teknologi di pasar global.

Adrian Joezer, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, mengatakan investor pasar publik semakin detail dalam menganalisis perusahaan teknologi. “Pertanyaan utama telah bergeser, seperti cara perusahaan mencapai profitabilitas, margin EBITDA bisnis, dan jenis matriks valuasi yang harus digunakan dalam menganalisis perusahaan teknologi,” kata Adrian.

Selain itu, Agung Prabowo, Direktur Utama BNI Sekuritas, mengatakan investor selalu mencari peluang untuk membeli di setiap krisis. Hal umum yang paling dicari investor adalah aset unggulan, yaitu perusahaan yang dikelola dengan baik, dioperasikan dengan baik, dan sangat fokus pada bisnisnya. Di tengah ketakutan pasar akan resesi, Agung menekankan bahwa para founders harus dapat menjalankan bisnis mereka dengan super efisien karena kelangkaan modal. Meski demikian, dia yakin pasar akan pulih dan likuiditas sebenarnya masih ada.

Dalam Founders Gathering, Ranju Parambi, Head of Global Banking Indonesia di UBS, mengajukan pertanyaan kepada Willson, yang ia sebut sebagai bapak industri modal ventura di Indonesia. Dia bertanya tentang aspek yang menjadi gap bagi Indonesia pada posisi saat ini hingga menuju potensi kita menjadi raksasa ekonomi digital global.

Dari sudut pandang kami, waktu adalah aspek penting untuk membantu Indonesia membuat lompatan besar menjadi ekosistem raksasa teknologi digital, yang kemampuannya setara dengan China dan India.

Saat ini, menurut kami, Indonesia telah berkembang menjadi ekosistem digital yang lebih besar di Asia Tenggara selama lebih dari satu dekade. Terlihat bahwa pertumbuhan penetrasi internet yang masif dan pekerja yang berpendidikan lebih baik telah memungkinkan perusahaan untuk mencapai pendapatan bulanan US$ 1 juta dalam setahun, yang biasanya memakan waktu sekitar 4-5 tahun.

Kami sangat yakin bahwa rentang waktu tersebut dapat dipersingkat lebih jauh. Saat ini, Indonesia memiliki hampir 200 juta pengguna internet atau sekitar 70-80% penetrasi internet. Infrastruktur digital juga mengalami  perbaikan, pasar juga semakin teredukasi, sehingga biaya akuisisi pelanggan yang lebih rendah dan lifetime value pelanggan yang lebih besar. Kami juga melihat semakin banyak pendiri yang mencoba memecahkan masalah dengan lebih cepat dan efisien. Faktor-faktor ini dapat mempercepat ekosistem raksasa digital Indonesia untuk menjadi pemain terdepan di kancah teknologi.

Pelajaran yang dipetik dari para founder portofolio

Sebelum adanya kondisi seperti ini, beberapa founder startup telah mengalami dan melewati berbagai macam krisis. Mereka berbagi pelajaran tentang bagaimana mereka membangun bisnis mereka dan menangani situasi dinamis di sepanjang perjalanan mereka. Berikut adalah intisari dari founder portofolio kami.