Back
James Rijanto - Pasarnow
East Ventures

Share

28 Juli, 2022

EVDCI

Kisah Pasarnow mengubah rantai pasok sektor grosir di Indonesia

Adopsi teknologi dan kompleksitas rantai pasok jadi tantangan bagi sektor grosir: laporan EV-DCI 2022

Lahir dan dibesarkan di tengah hiruk pikuk ibu kota Indonesia, Jakarta, James Rijanto mengingat perubahan besar dalam tren bisnis, dari yang dulu banyak berputar di sekitar industri manufaktur, ke konsep F&B dan lifestyle baru. 

Kini, F&B telah menjadi industri kunci bagi Jakarta. Tidak hanya makanan dan minuman, industri ini juga menawarkan tempat rekreasi dan berkumpul. Namun, menurut James, banyak masalah klasik belum bisa diselesaikan, seperti mendapatkan akses dan pasokan produk yang andal, berurusan dengan terlalu banyak pemasok, ketidaknyamanan, dan kurangnya transparansi dalam pemesanan & pembuatan faktur. Tantangan inilah yang memanggilnya untuk mendirikan Pasarnow.

Pasarnow founders

Pasarnow founders

Pada tahun 2019, James, Donald Wono, dan Cindy Ozzie, mendirikan Pasarnow untuk mengubah rantai pasokan produk kelontong (grosir) di Indonesia. Visi mereka adalah agar Pasarnow menjadi solusi untuk semua bisnis F&B di Indonesia, menyediakan solusi lengkap untuk semua kebutuhan dapur & perlengkapan produk mereka.

“Misi kami adalah untuk membantu bisnis F&B untuk tumbuh dalam skala besar dengan memecahkan masalah harian mereka seputar mendapatkan pasokan produk yang konsisten & andal, proses pemesanan & penagihan yang nyaman, dan mendapatkan akses ke berbagai macam produk dengan harga bersaing,” kata James.

East Ventures, perusahaan modal ventura terkemuka di Indonesia, telah berinvestasi di Pasarnow sejak 2021. Co-founder dan Managing Partner East Ventures, Willson Cuaca, percaya bahwa Pasarnow hadir untuk mengatasi masalah di industri F&B, terutama tantangan grosir, dengan menghilangkan inefisiensi dalam proses melalui model bisnis yang berbasis data.

Platform ini menghubungkan petani dengan pemasok dan pelanggan (B2B dan B2C) untuk mengamankan rantai pasokan produk bahan makanan, mempersingkat rantai pasok yang terfragmentasi, dan menghilangkan banyak perantara. 

Sebagian besar petani berada di luar wilayah metro tanpa akses langsung ke pelanggan, sehingga mereka harus menjual produknya ke pedagang kecil atau perantara, yang akan menjual ke pedagang besar, kemudian ke pasar basah, dan akhirnya ke pelanggan. Proses rantai pasokan konvensional ini merugikan margin keuntungan petani, dan mempengaruhi pendapatan mereka. Fakta lainnya dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2019, sekitar 20,7 juta atau 75% rumah tangga pertanian, memiliki kurang dari 1 hektar tanah pertanian. Situasi ini membuat mereka tak memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksi dan rantai pasok secara basis individual. 

Pasarnow bekerja sama dengan kelompok petani, yang memiliki sekitar 50-250 anggota tani per kelompok, untuk menciptakan lebih banyak dampak bagi lebih banyak petani sambil mencapai skala operasi yang diperlukan untuk menjadi berkelanjutan dan menguntungkan. Mitra petani Pasarnow mengatakan, mereka dapat meningkatkan harga jual 20-30% lebih tinggi dibandingkan harga yang ditawarkan para perantara atau pasar tradisional. 

Saat ini, lebih dari 1.000 petani telah berkolaborasi dengan Pasarnow melalui kelompok tani di seluruh Jawa (Jawa Barat, Tengah, & Timur), Bali, dan Kalimantan. Sementara, platform Pasarnow beroperasi di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya. Perusahaan juga bekerja sama dengan pemasok prinsipal hingga UKM dengan produk berkualitas.

Adopsi teknologi dan rumitnya rantai pasok jadi tantangan bagi startup e-grocery

Industri kebutuhan sehari-hari (kelontong) merupakan sektor potensial yang mendorong perekonomian Indonesia. Pasar grocery diprediksi bernilai US$ 169,4 miliar pada tahun 2022 – naik dari US$ 140,2 miliar pada tahun 2019, menurut perusahaan riset IGD. Indonesia juga diprediksi menjadi pasar kelontong terbesar keempat di Asia pada tahun 2022 – setelah China dan India yang berada pada posisi kedua dan ketiga. Adapun, ritel kelontong online juga akan meningkat dari 0,3% pada tahun 2020 menjadi 0,5% pada tahun 2022. 

Namun, adopsi teknologi dan rumitnya operasi pada rantai pasok dari awal hingga akhir menjadi tantangan besar untuk mentransformasi industri kelontong di kota-kota besar di luar Jakarta.

“Tidak semua orang di Indonesia melek teknologi, dan menemukan solusi teknis yang tepat, yang tidak terlalu rumit tetapi juga bermanfaat tidaklah mudah. ​​Juga perlu waktu untuk mengedukasi pengguna untuk memahami mengapa mereka harus mengubah kebiasaan mereka, menggunakan teknologi dibandingkan dengan cara tradisional,” kata James.

Hal ini sejalan dengan laporan East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2022,  minimnya literasi digital, keterbatasan pendanaan, serta akses investasi startup, menjadi faktor utama penyebab usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sulit mengadopsi teknologi. Hanya sekitar 25% UMKM Indonesia sudah menggunakan platform online untuk bisnis mereka. 

Selain itu, kondisi geografi Indonesia yang unik merupakan suatu tantangan logistik untuk menyediakan koneksi internet yang kuat bagi para UMKM yang tersebar di seluruh negeri. Akibatnya, adopsi digital masih kurang, terutama bagi UMKM yang berada di daerah tertinggal di Indonesia. Menurut EV-DCI 2022, masih terdapat kesenjangan yang besar antara DKI Jakarta dengan provinsi lain terkait pemanfaatan platform online oleh pekerja untuk melakukan penjualan. Misalnya, Sulawesi memiliki skor 14, jauh lebih rendah dari skor Jawa 49 pada tahun 2022.

Laporan EV-DCI juga mengidentifikasi beberapa faktor yang membuat lambatnya adopsi pada B2B commerce. Faktor tersebut diantaranya adalah : lambatnya adopsi digital pada perusahaan dibandingkan dengan segmen C2C, kompleksitas operasional yang lebih tinggi dibandingkan segmen B2C atau C2C. Transaksi B2B memiliki nilai harga yang lebih tinggi, membutuhkan kemampuan teknis yang lebih canggih, seperti informasi inventaris waktu nyata, permintaan penawaran, dan alur persetujuan pengadaan.

Untuk mengatasi tantangan adopsi teknologi, Pasarnow menerapkan beberapa langkah untuk mendorong pelanggan mengadopsi teknologi, mulai dari penggunaan aplikasi untuk pembelian hingga digitalisasi sistem gudang dengan alat manajemen dan sistem armada.

Terkait penyederhanaan operasi pada rantai pasok, Pasarnow akan mengembangkan sistem manajemen transportasi untuk melacak produk dari hulu ke hilir, sehingga dapat memastikan produk yang terkirim dapat tepat waktu dan pada kualitas terbaik dengan biaya yang optimal.

Memperbaiki rantai pasokan untuk pasokan makanan yang berkelanjutan

Walaupun menjadi negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia merupakan  negara berpenghasilan menengah ke bawah dan masih menghadapi beberapa tantangan, seperti keterbatasan akses pangan, kekurangan gizi, perubahan iklim, dan kerentanan terhadap bahaya alam. Menurut data World Food Program, sekitar 270 juta dari total populasi atau 22,9 juta orang, tidak dapat memenuhi kebutuhan dietnya, dan 30,8% balita mengalami stunting.

Pasarnow membantu untuk membawa dampak positif bagi masyarakat Indonesia dengan mengurangi fluktuasi harga pangan dan kelangkaan produk alam. Perusahaan telah membuat hub yang dekat dengan pelanggan. Hub tersebut dilengkapi dengan tempat penyimpanan dingin untuk mengurangi biaya logistik dan memastikan kesegaran produk. Di sisi lain dari rantai pasokan, inovasi terbaru mereka adalah pemanfaatan pusat pengumpulan, yang memungkinkan petani untuk menurunkan semua barang mereka di lokasi sentral di dekat mereka dan juga hemat biaya.

Dengan mendukung Pasarnow, East Ventures yakin dapat memanfaatkan dampak yang lebih baik dalam mengamankan pasokan pangan dan mengurangi kelangkaan sehingga bangsa dapat mencapai target Zero Hunger pada tahun 2030.