How private and public sectors can collaborate to advance the Indonesian healthcare system
East Ventures

Share

21 Februari, 2023

Insights

Bagaimana sektor swasta dan publik dapat berkolaborasi untuk memajukan sistem kesehatan Indonesia

East Ventures baru-baru ini meluncurkan White paper: Genomics: Leapfrogging into the Indonesian healthcare future, sebuah laporan kerja sama dengan Kementerian Kesehatan Indonesia dan perusahaan konsultan global, Redseer, pada 16 Februari 2023, di Jakarta, Indonesia.

Pada acara tersebut, kami juga mengadakan diskusi panel yang menunjukkan bagaimana pemerintah dan sektor swasta dapat berkolaborasi untuk memajukan sistem kesehatan Indonesia. Para panelis berasal dari pemerintah dan perusahaan modal ventura: Setiaji, Kepala Dinas Transformasi Digital, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; Roderick Purwana, Managing Partner East Ventures; dan Aldi Adrian Hartanto, Partner ARISE & VP MDI Ventures. Ririn Ramadhany, Special Strategic Delivery Team Menteri Kesehatan Republik Indonesia, menjadi moderator panel.

Transkrip di bawah ini telah diedit untuk kejelasan.

***

Ririn Ramadhany: Pak Setiaji, kita mengetahui dari Pak Budi pagi ini bahwa Kementerian Kesehatan memiliki agenda transformasi. Akan ada perubahan besar dan tentunya tantangan. Bisakah Anda berbagi tentang upaya-upaya yang dilakukan Kementerian untuk sektor kesehatan Indonesia?

Setiaji: Kami telah melakukan banyak upaya untuk meningkatkan sektor kesehatan Indonesia. Aktivitas yang kami lakukan tidak hanya terbatas pada pembuatan kebijakan, tetapi juga penerapan teknologi. Hal yang penting untuk dilakukan adalah meningkatkan skalabilitas dan kompetensi pekerja. Kita perlu ‘melompat’ untuk menyusul negara-negara lain yang sudah memulai terlebih dahulu. Maka dari itu, kami meluncurkan blueprint di akhir tahun 2021. Sebenarnya, blueprint ini tidak hanya untuk pemerintah saja, tetapi juga untuk para pemangku kepentingan (stakeholders). Contohnya, startup dan sektor swasta harus menyelaraskan diri dengan kebijakan kami dan apa yang kami rencanakan dalam beberapa tahun ke depan. Kami sudah memiliki rencana sampai tahun 2024.

Di samping itu, kami juga memperbaiki peraturan rekam medis elektronik setelah 14 tahun. Sekarang, kami sudah memiliki peraturan untuk mendorong dan mempercepat pengambilan keputusan digital di bidang kesehatan, terutama terkait fasilitas. Sangat penting untuk mendigitalisasi sektor kesehatan seperti rekam medis.

Kami juga memiliki beberapa peraturan untuk mendukung aspek lainnya seperti PDP dan standarisasi lain yang berhubungan dengan terminologi seperti ICD-10, SNOMED, dan LOINC supaya kami bisa membangun aplikasi “Satu Data”. Tahun lalu, kami meluncurkan platform “Satu Sehat”. Dalam waktu dekat, “Peduli Lindungi” akan terintegrasi dengan aplikasi “Satu Sehat”.

Bagaimana kita mengintegrasi semua fasilitas kesehatan, membuat standarisasi dan menerapkan teknologi terkini akan menjadi sangat penting, jadi semua startup perlu mematuhi peraturan dan standarisasi kami.

Yang terakhir adalah bagaimana kami membangun kapasitas masyarakat. Sebenarnya, kami memiliki program bersama East Ventures bernama “Acceleration Startup”. Kami melakukan ini tahun lalu dan ini akan menjadi yang kedua. Kami berharap startup bisa lebih terlibat di bidang ini. Kami sudah memiliki informasi yang kami kerjakan bersama East Ventures yang akan diluncurkan hari ini. Jadi, kami berharap semua startup bisa berpartisipasi dalam inisiatif ini. Kami mempunyai total hadiah sebesar kurang lebih 2,5 milyar rupiah. Semoga akan ada startup unicorn di bidang kesehatan karena sampai saat ini belum ada.

Ririn Ramadhany: Pak Budi berkata bahwa jika kita ingin pergi jauh, kita harus pergi bersama-sama. Artinya, kita harus memiliki kolaborasi yang kuat. Menurut Anda, bagaimana kita bisa meningkatkan kolaborasi dengan startup dan sektor swasta? 

Setiaji: Modal ventura tidak bisa hanya berinvestasi semata, mereka harus melakukan upaya-upaya yang dilakukan East Ventures. Contohnya, East Ventures sedang melakukan pemetaan BioGenomics. Ini bisa menjadi hal yang penting bagi kami dan juga startup untuk perbaikan fitur. Hal penting lainnya adalah membangun kapasitas startup dan mengakselerasi hal-hal lainnya dengan pemerintah. Kami sebenarnya sudah lumayan lama bekerja sama dengan East Ventures.

Kami memulainya dengan Jakarta Smart City untuk membangun ekosistem. Startup membutuhkan ekosistem karena mereka tidak bisa berdiri sendiri. Pemerintah butuh berkolaborasi dengan startup dan pihak lain. Tugas pemerintah adalah membangun platform dan startup bisa memanfaatkan platform ini untuk membangun sistem seperti sistem registrasi dan informasi kesehatan. Pemerintah lah yang membangun standarisasi platform dan kami harus merangkul lebih banyak startup untuk bekerja sama dengan kami. Dengan inisiatif ini, kami bisa ‘melompat’ dan bergerak lebih cepat daripada negara lain. 

Ririn Ramadhany: Saya akan bertanya kepada Pak Roderick dan Pak Aldi. Peluang investasi apa saja yang Anda lihat dalam industri kesehatan Indonesia?

Roderick Purwana: Saya rasa peluang untuk industri kesehatan sangat melimpah. Dan saya rasa potensinya akan sangat besar sehingga sulit diukur. Kalau kita berbicara mengenai hal spesifik, saya rasa dalam beberapa tahun terakhir East Ventures sudah melakukan beberapa investasi dalam bioteknologi, genomik, dan bidang lainnya. Peluang yang kami lihat di Indonesia sekarang adalah konten medis, telemedis, dan marketplace online. Kami juga melihat pergerakan menuju wellness, asuransi kesehatan digital, dan pemantauan serta diagnostik. Pada akhirnya, saya rasa seiring ekosistem ini berkembang, akan ada pergerakan menuju penemuan obat, pengobatan presisi, genomik, dan bioteknologi. Ini baru level permukaan dan permulaan saja. Peluangnya sangat besar.

Aldi Adrian HartantoSaya tidak meragukan bahwa peluangnya besar. Tapi, ada poin-poin yang berkaitan juga dengan aksesibilitas, konektivitas, dan tentunya akses terhadap peluang itu sendiri.

Bicara tentang aksesibilitas, sayangnya kita mengetahui bahwa Indonesia masih banyak kekurangan dalam semua matriks kesehatan. Jumlah tempat tidur dan fasilitas kesehatan kita masih kurang dibandingkan standar global. Saya rasa peluangnya ada pada aksesibilitas di mana kita harus bisa memberdayakan infrastruktur dan penyedia layanan kesehatan di Indonesia untuk lebih produktif dan mampu melayani lebih banyak orang. Ini saat di mana teknologi bisa masuk. Seperti yang dikatakan Roderick, teknologi seperti telemedis memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk melayani lebih banyak pasien.

Saya sangat salut kepada kinerja Pak Budi, Bu Ririn, Pak Setiaji dan semua anggota Kemenkes karena bisa membawa perubahan dan transformasi seperti aplikasi “Satu Data”, “Satu Sehat” dan EMR. Hal ini membuat penyedia layanan kesehatan menjadi lebih terdigitalisasi. Ini juga memungkinkan kita untuk membahas bagian selanjutnya, yaitu konektivitas.

Teknologi seharusnya tidak hanya memberdayakan tenaga kesehatan, tapi juga menghubungkan dan mengikat penyedia layanan dan infrastruktur agar solusi kesehatan lebih mudah didapatkan, terutama untuk keluarga dan kerabat kita yang tersebar di Indonesia. Hal ini memungkinkan kita untuk memperbanyak peluang dari sisi layanan finansial dan sistem informasi kesehatan dan juga memungkinkan penggunaan alat digitalisasi untuk penyedia layanan kesehatan.

Dan hal terakhir adalah mengenai peluang ke depan yang terletak pada genomik dan bioteknologi. Akan ada banyak peluang menarik ke depannya. 

Ririn Ramadhany: Pak Aldi tadi berkata bahwa pemerintah harus mendukung dari segi peraturan, konektivitas, dan aksesibilitas. Bagaimana kita bisa memperkuat ekosistem ini kedepannya? 

Aldi Adrian Hartanto: Saya sangat berterimakasih kepada para pemangku kepentingan di ekosistem kesehatan yang sudah membangun fondasi bidang ini. Sudah banyak rumah sakit dan layanan kesehatan yang dibangun. Pemerintah juga turun tangan dan membawa banyak inisiatif dan peraturan. Seperti yang Pak Willson katakan, ada kejelasan dalam setiap krisis.

Kami sebagai modal ventura harus bisa menggerakkan setiap kepingan puzzle yang ada. Sekarang, ada banyak kepingan dari sisi pemerintah, sektor swasta, farmasi, penyedia layanan kesehatan, dan asuransi.

Ada dua hal yang bisa kami lakukan sebagai modal ventura. Pertama, kami perlu berbuat lebih banyak sebagai investor. Kami harus bisa bekerja berdampingan dengan para founders untuk mengumpulkan peluang terkini, baru, dan selanjutnya.

Peluang terkini adalah peluang yang sedang terjadi sedangkan peluang baru adalah peluang jangka menengah dan peluang selanjutnya adalah peluang di mana kita bisa menambahkan nilai dan jaringan. Kami didukung oleh perusahaan seperti Bio Farma yang memungkinkan kami untuk memberikan nilai lebih, mengetahui kondisi pasar saat ini, dan merumuskan peluang jangka pendek, menengah, dan panjang.

Ririn Ramadhany: Pak Roderick, bagaimana pendapat Anda?

Roderick Purwana: Saya setuju. Secara umum, salah satu kesenjangan terbesar dalam industri kesehatan saat ini adalah pendanaan. Sebagai pemodal ventura, salah satu peran utama kami adalah menyediakan modal dan pendanaan. Memecahkan masalah sekaligus memajukan industri kesehatan adalah isu multi-stakeholder. Hari ini kami melihat statistik tentang berapa banyak pendanaan yang dikeluarkan modal ventura untuk industri kesehatan dan perusahaan yang berhubungan dengan kesehatan. Dan jumlahnya sangat kecil. Jadi, ini bukan hanya soal menyediakan pendanaan, tapi juga bagaimana menarik pihak lain untuk masuk dan mendanai sektor ini.

Ririn Ramadhany: East Ventures telah berinvestasi di banyak jenis startup kesehatan mulai dari personalized medicine, bioteknologi, pengurutan genomik, dan kesehatan mental. Dari sudut pandang Anda sebagai investor, apa tantangan utama yang kita hadapi saat ini? 

Roderick Purwana: East Ventures bukan hanya merupakan salah satu pionir modal ventura di Asia Tenggara dan Indonesia, tetapi juga dalam bidang kesehatan. Pendanaan adalah isu besar, tapi menarik modal ventura lain untuk mulai terjun ke dalam sektor ini adalah masalah lain. Bagaimana kita bisa bekerja sama dengan founders juga merupakan masalah tersendiri. Saya sangat senang kita berkumpul di sini hari ini, dan partisipasi dan kolaborasi dengan sektor swasta sudah berjalan dengan baik.

Tapi, ada banyak hal lain yang bisa kita lakukan bersama. Jika pemerintah perlu menciptakan kebijakan dan platform, sektor swasta bisa membantu memajukan ekosistem. Ini mulai banyak terjadi sekarang. Saya rasa akan ada tantangan, tapi semuanya bisa dilalui jika kita melakukannya bersama. 

Ririn Ramadhany: Pak Aldi, MDI Ventures bekerja sama dengan Bio Farma dan meluncurkan Bio-Health Fund untuk startup tahap awal dan berkembang di Indonesia dalam industri bioteknologi dan kesehatan. Bisakah Anda menjelaskan lebih jauh mengenai kerja sama ini? 

Aldi Adrian Hartanto: Visi tentang bagaimana pemerintah dan sektor swasta bisa terhubung dan memberikan nilai tambah kepada industri awalnya bermula dari Pak Budi dan Pak Erick. Kolaborasi yang baik ini mencoba memberikan nilai lebih berdasarkan hal-hal yang ingin kami pecahkan. Seperti yang dikatakan Pak Roderick, industri kesehatan sangat rumit namun memberikan peluang yang menarik. Peluang yang rumit membutuhkan solusi yang tidak kalah rumit. Ini mengapa kami menghadirkan pemain terbaik yang ada seperti Bio Farma yang telah melayani negara dan mendirikan fondasi industri kesehatan Indonesia selama seratus tahun terakhir. Dengan begitu, kami bisa mempelajari kesalahan-kesalahan dan hal apa saja yang bisa dilakukan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Ketika bekerja dengan para founder, kami selalu berpikir mengenai rencana jangka panjang, tapi terkadang kami belum benar-benar menciptakan jalur yang jelas untuk mencapai pertumbuhan vertikal.

Beberapa dari perusahaan fintech terbesar bukanlah perusahaan layanan finansial. Contohnya adalah Gojek. Mereka bukan perusahaan pembayaran fundamental, tapi mereka datang dengan solusi layanan pembayaran terbesar. Jadi, saya rasa memberikan nilai lebih dari sekedar memberikan layanan kesehatan menjadi sesuatu yang harus dikolaborasikan.

MDI Ventures sebenarnya cukup agnostik. Kami berinvestasi di hampir semua sektor. Bekerja sama dengan Bio Farma yang ahli, mengetahui apa yang bekerja dan tidak dan apa yang sedang terjadi serta hubungan dekat kami dengan pemerintah membantu kami mengerti apa katalis selanjutnya yang bisa mendatangkan peluang selanjutnya di industri kesehatan.

Sayangnya, dana ini belum diinvestasikan di mana pun, namun kami sedang dalam proses finalisasi beberapa hal. Kami sedang membangun 3 tim yang berkaitan dengan aksesibilitas, konektivitas, dan peluang masa depan. Kami akan mencoba memecahkan satu per satu hal berdasarkan fase peluangnya. Aksesibilitas berkaitan dengan rencana jangka pendek dan berkisar antara memberdayakan tenaga kesehatan agar lebih produktif dan ahli, terutama jika kita mempertimbangkan fakta bahwa ada kesenjangan dalam jumlah tenaga spesialis dan tenaga kesehatan. Kita juga kekurangan fisikawan. Kami berharap teknologi bisa membantu mengembangkan dan memberikan nilai lebih. Hal kedua adalah konektivitas, yaitu kemampuan mendirikan infrastruktur untuk menyediakan konektivitas kepada seluruh keluarga dan orang-orang tercinta di seluruh Indonesia melalui teknologi dan kolaborasi penyedia layanan kesehatan.

Sedangkan untuk peluang masa depan, kami mencoba memecahkan masalah besar seperti fakta bahwa 90% dari bahan baku dan peralatan medis kita masih diimpor. Jadi, kami mencoba berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang bisa mendirikan fondasi masa depan agar Indonesia bisa menjadi destinasi kesehatan dan menciptakan kesempatan untuk investor dan mitra di seluruh Indonesia dan mitra global.

Ririn Ramadhany: Pak Roderick dan Pak Aldi, adakah saran untuk mereka yang berencana untuk segera memulai bisnisnya? Untuk Pak Setiaji, saran apa yang bisa Anda berikan dari sudut pandang pemerintah sebagai regulator?

Roderick Purwana: Saya rasa menjadi entrepreneur tidak pernah mudah, tapi menemukan produk atau solusi yang tepat untuk masalah yang ada adalah kuncinya. Pastikan apa yang Anda lakukan jelas dan Anda berada di pasar yang besar. Lalu selanjutnya tergantung pada eksekusi. 

Aldi Adrian Hartanto: Founders cenderung bergerak cepat, tapi industri kesehatan memiliki masalah rumit yang membutuhkan solusi yang juga kompleks. Saya rasa Anda harus memikirkan kesempatan berkolaborasi supaya Anda bisa memberikan nilai lebih terhadap apa yang sudah dibangun para pendahulu dan senior. Tujuannya adalah untuk terhubung dan bisa merangkai setiap kepingan puzzle yang ada. Kami berharap bisa membantu Anda bergerak lebih cepat dengan sumber daya kami. 

Setiaji: Startup tidak perlu takut berbicara kepada pemerintah, karena banyak startup yang kesulitan menemukan use case. Kami memiliki banyak use case karena kami mempunyai banyak masalah. Dari masalah-masalah ini, Anda bisa mendapatkan keuntungan dan kesempatan. Strategi lainnya adalah bagaimana kami bisa membangun ekosistem karena kami sangat ingin membangunnya. Anda bisa menghubungi Pak Tota, Head of Tribe kami. Anda bisa berbicara kepada kami dan kami bisa mendukung Anda. Industri terbesar setelah fintech adalah healthtech, jadi kami butuh lebih banyak startup untuk membangun industri ini di Indonesia.

Pertanyaan: Sebagai konteks, perusahaan saya juga ikut dalam konferensi genomik di Bali pada bulan Desember lalu. Dalam forum tersebut, saya melihat cukup banyak pertanyaan dan kekhawatiran mengenai rantai pasok untuk industri kesehatan, terutama jika berbicara tentang genomik, yaitu rantai pasok reagent. Pada diskusi ini, saya ingin mendengar pendapat investor tentang hal ini. Bagaimana Anda melihat rantai pasok reagent di Indonesia sebagai peluang?

Aldi Adrian Hartanto: Logistik memiliki tantangannya tersendiri. Sekarang, masalah-masalah utama logistik selalu kembali lagi ke 3 hal. Yang pertama adalah SLA. Yang kedua berhubungan dengan sisi kesehatan dan farmasi dan bagaimana kita bisa memastikan kualitas genom atau produk kesehatan ketika diantarkan dari titik A ke titik B. Masalah ketiga adalah bagaimana membuat biaya menjadi lebih ramah, karena masalah unik di Indonesia adalah biaya logistik ketika mengirim produk. Ini mengapa kami melihat ada peluang, terutama bagaimana teknologi bisa memberikan nilai tambah.

Untuk masalah SLA, teknologi bisa memberi nilai tambah dari 2 bagian, yaitu dari segi software dan hardware. Software berkaitan dengan bagaimana Anda mengumpulkan semua permintaan dan penawaran dan mempersingkat semua kegiatan operasi untuk memastikan SLA bisa teroptimisasi.

Hal kedua adalah hardware. Kami menggunakan IoT dan terkadang hardware digunakan untuk memastikan suhu tetap terjaga. Kami juga bisa mengawasi dan menilai kualitas obat dan waktu pengiriman. Jika sesuatu terjadi, kami akan secara cepat mengatasi dan menavigasikannya sebelum masalah tersebut benar-benar terjadi.

Dengan begini, kami akan mampu mengurangi resiko dan bahaya potensial yang akan terjadi ketika mengirimkan genom tersebut. Hal terakhir berkaitan dengan biaya karena inefektivitas rantai pasok. Ini mengapa kami berharap teknologi bisa memberikan nilai tambah pada bagian tersebut.

Ketiga peluang ini adalah berinvestasi pada penyedia layanan teknologi, mencari solusi teknologi dan mencari agregator teknologi. Kolaborasi akan menjadi kunci dalam masalah kompleks ini untuk memastikan kita mendapatkan permintaan dan penawaran yang optimal di antara pemain. Mungkin ada yang ingin Roderick sampaikan lebih lanjut.

Roderick Purwana: Dari perspektif investor, masalah logistik rantai pasok reagent sangat spesifik, tapi masalah yang lebih besar ada pada logistik kesehatan, bagaimana melakukan praktik rantai pasok yang benar, karena ini melibatkan transportasi dan hal lainnya. Jadi, dari sudut pandang investor, ini merupakan masalah yang cukup berat. Saya rasa kami akan selalu terbuka untuk mencari solusinya.

Pertanyaan: Modal ventura kami berfokus pada investasi dalam sektor kesehatan. Kami berbasis di Singapura dan ingin berinvestasi di Indonesia. Saya ingin mengetahui pendapat Anda mengenai tipe dukungan terbaik yang bisa mengakselerasi perkembangan industri kesehatan di Indonesia terlepas dari dukungan keuangan? 

Setiaji: Anda bisa membaca blueprint kami [yang dapat diunduh di website kami, dto.kemenkes.go.id, tersedia dalam 2 bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris].

Saya rasa Anda harus membaca blueprint kami terlebih dahulu. Dalam blueprint kami, kami menjelaskan bukan hanya isu tetapi juga peluang yang ada. Sebenarnya, kami memiliki lebih dari 60.000 fasilitas kesehatan sekarang dan baru 20% yang sudah terdigitalisasi. Karena kami sudah memiliki peraturan untuk mendorong rumah sakit, perawatan primer, apotek dan laboratorium untuk bisa didigitalisasi hingga Desember 2023, kami butuh akselerasi untuk mempersiapkan atau membangun kapasitas dan sistem untuk fasilitas ini.

Pemerintah sudah memiliki standarisasi platform. Penting bagi startup untuk membangun aplikasi. Kami juga memiliki kamus untuk terminologi farmasi. Anda bisa menggunakannya secara gratis untuk referensi. Hal yang terpenting adalah kami akan meluncurkan platform “Satu Sehat”, jadi Anda bisa terhubung secara langsung dengan kami dan setelah ini Anda bisa membagikan data dari seluruh fasilitas kesehatan dan orang-orang bisa mengakses data Anda menggunakan aplikasi ini.

Ririn Ramadhany: Sebagai ringkasan sesi ini, kita menyadari bahwa Indonesia baru saja memulai upaya peningkatan industri kesehatan. Tentunya akan ada tantangan, tapi melalui kolaborasi antara pemerintah, startup dan juga modal ventura, kami berharap kami bisa membuat Indonesia ‘melompat’ menuju kualitas industri kesehatan yang lebih baik. Jadi, sekali lagi, berikan tepuk tangan untuk panelis kita hari ini.

***

Anda dapat mengunduh white paper kami di east.vc/genomics.