Back
World Mental Health Day
East Ventures

Share

10 Oktober, 2022

From Portfolios

Alasan pentingnya menjaga kesehatan mental karyawan bagi perusahaan

Pekerja semakin peduli dengan kesehatan mental, tetapi hanya sedikit perusahaan yang memberikan dukungan

Pandemi COVID-19 telah semakin terkendali, dengan kembalinya aktivitas kerja sebelum pandemi, seperti datang ke kantor. Namun, perusahaan tidak dapat memungkiri bahwa keseimbangan antara kerja dan aktivitas lainnya (work-life balance) selama dan pasca pandemi telah mengubah cara orang bekerja dan berpengaruh pada produktivitas. Perubahan situasi yang dinamis telah menyebabkan peningkatan masalah kesehatan mental, termasuk dampak pada tingkat stres di antara karyawan.

Dalam wawancara podcast dengan Tech in Asia, Theodoric Chew, Co-Founder dan CEO Intellect, platform kesehatan mental yang berbasis di Singapura, mengungkapkan bahwa masalah kesehatan mental sebenarnya bukan hal baru. Sebagian besar perusahaan menengah sudah menyediakan dukungan bagi karyawan, yang umumnya disebut ‘Distressed Helpline’. Namun, hanya kurang dari 1% karyawan yang memanfaatkannya karena takut akan stigma negatif. Kekhawatiran lain adalah jika menggunakan saluran bantuan tersebut dapat mempengaruhi hubungan dengan manajemen, penilaian kinerja, dan pertimbangan promosi. Melihat kebutuhan dan permasalah tersebut, Intellect mempermudah pelanggannya, termasuk karyawan mengakses ke pendidikan kesehatan mental, layanan pertolongan (SOS), hingga bantuan profesional kesehatan mental yang bersertifikat. 

Theodoric menekankan bahwa kesadaran dan ekspektasi karyawan akan manfaat kesehatan mental telah berubah secara eksponensial di seluruh dunia, termasuk di Asia. Karyawan tidak lagi hanya melihat paket kompensasi tetapi juga manfaat menyeluruh yang mereka dapatkan dari perusahaan. Misalnya, apakah mereka bisa bekerja dari rumah atau kantor, dan  perawatan mental seperti apa yang disediakan perusahaan.

“Merawat kesehatan mental karyawan memiliki keuntungan besar bagi perusahaan, dan mendorong perkembangan bisnis pada jangka panjang. Jika Anda berinvestasi dengan cara ini, Anda memiliki retensi yang lebih lama dan lebih banyak karyawan yang termotivasi dengan semangat kerja yang lebih baik,” kata Theodoric.

Sebuah studi dari McKinsey tentang ‘The Great Resignation’ pada tahun 2021, menunjukkan jika karyawan tidak sehat secara mental, akan mempengaruhi bottom line bisnis dalam banyak hal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan bahwa, masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan dapat merugikan ekonomi global sebesar US$ 1 triliun per tahun, terutama dari penurunan produktivitas.

Sebagai perusahaan yang percaya pada visi jangka panjang untuk kesejahteraan karyawan dan kesehatan mental, East Ventures telah berinvestasi di beberapa perusahaan yang memfasilitasi akses ke kesehatan dan kesejahteraan mental, termasuk Intellect, Mindtera, Riliv, dan Bicarakan.id, sejak tahun lalu. Kami percaya dalam membuka jalan untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang kesehatan mental dan pentingnya menghilangkan stigma kesehatan mental.

Berdasarkan survei yang dilakukan Mindtera, startup Indonesia yang fokus pada pengembangan diri, pada tahun 2022 terhadap 112 perusahaan dari berbagai sektor, menemukan bahwa 8 dari 10 organisasi telah sadar akan kebutuhan memperhatikan kesehatan mental karyawan. Namun, perusahaan yang telah bertindak untuk mengatasi masalah tersebut kurang dari 20%. Beberapa alasan adalah kurangnya rencana tindakan yang komprehensif dalam mendekati masalah, atau perusahaan menganggap masalah kesehatan mental karyawannya sebagai masalah pribadi yang harus diselesaikan oleh setiap orang secara pribadi. 

Di Indonesia, banyak orang memperlakukan kesehatan mental sebagai hal yang tabu. Data prevalensi nasional masalah kesehatan jiwa terbatas, namun 5,9% rumah tangga dari total 218.716 rumah tangga sampel di Indonesia memiliki anggota keluarga yang mengalami depresi dan gangguan mental emosional lainnya. Kementerian Tenaga Kerja Indonesia telah memasukkan kesejahteraan psikologis dalam peraturan menteri 2018, yang menyatakan bahwa perusahaan atau pengusaha harus menerapkan manajemen stres untuk membantu mencegah masalah kesehatan mental pada karyawannya.

Dalam mengatasi masalah tersebut, Mindtera bertindak sebagai platform yang objektif dan tidak memihak yang berupaya menyelaraskan perusahaan dan karyawan sehingga kedua belah pihak dapat bertemu di tengah.

“Kami mencoba membantu perusahaan untuk memiliki visibilitas kondisi karyawan mereka di luar produktivitas dan kinerja melalui dasbor analitik SaaS kami, di mana perusahaan dapat memantau kesejahteraan karyawan, forecast turnover, sentimen pekerja, dan indeks kebahagiaan. Untuk memberi pengalaman secara holistik, Mindtera menyediakan program pelatihan bagi karyawan untuk penguasaan diri dan belajar meregulasi emosi, yang sangat berperan dalam produktivitas kerja,” ujar Tita Ardiati, Co-Founder dan CEO Mindtera.

Orang mungkin berpikir bahwa keseimbangan kehidupan kerja adalah sesuatu yang perlu diciptakan oleh setiap perusahaan untuk karyawan mereka. Namun, keseimbangan kehidupan kerja adalah siklus yang harus dirancang oleh setiap karyawan dan menyesuaikan dengan kemampuan mereka sendiri. Merancang siklus kesimbangan kehidupan kerja yang tepat, bukan sesuatu yang mudah. Karyawan perlu memiliki tiga nilai inti agar bisa mencapai keseimbangan karir dan kehidupannya, yakni: kesadaran diri, kreatif dalam mengelola pekerjaannya dan akuntabilitas, yang dapat memperoleh kepercayaan dari manajemen.

Sementara itu, perusahaan bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan mental karyawannya; mereka tidak hanya menghabiskan sepertiga hidup mereka untuk pekerjaan, tetapi juga akan berdampak pada pertumbuhan berkelanjutan perusahaan.

“Selama Anda masih mempekerjakan tenaga kerja, Anda perlu menghargai manusia sebagai aset dan berinvestasi pada mereka. Berinvestasi dalam sumber daya manusia itu rumit. Manfaatnya tidak langsung terlihat, tetapi perusahaan akan melihat dampak yang berkelanjutan jika anda membangun lingkungan kerja yang seimbang dan sehat. Sumber daya manusia adalah aset berharga bagi pertumbuhan perusahaan. Orang-orang yang bahagia menginspirasi pertumbuhan, jadi jagalah karyawan anda, dan anda  akan melihat produktivitas,” tutup Tita.