Back
Mulyono Xu, Co-Founder & CEO of Desty
East Ventures

Share

19 Oktober, 2022

EVDCI

Desty mendorong UMKM ‘naik kelas’ dalam pertumbuhan ekosistem commerce Indonesia

EV-DCI 2022 menunjukkan kenaikan 39% pada median penggunaan platform online untuk bisnis, namun masih sedikit persentase dari UMKM yang mengoptimalkan fitur digital

Mulyono Xu, pemuda lokal asal Aceh, telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di Tiongkok sejak ia mulai belajar di negeri Tirai Bambu hampir 20 tahun yang lalu. Pengalamannya yang luas dalam solusi e-commerce di salah satu marketplace teknologi raksasa Tiongkok, Alibaba Group, memberinya ‘keuntungan menjelajah waktu’ atau ‘time travel advantage’, suatu perspektif baru tentang kebutuhan masyarakat dan solusinya seiring dengan ekosistem digital Indonesia yang semakin matang. 

Setelah menyaksikan dan mengalami proses digitalisasi Tiongkok sepuluh tahun yang lalu, ia menyadari mengapa Tiongkok menjadi lebih unggul dari Indonesia sebagai sesama pasar negara berkembang. Tiongkok dan Indonesia memiliki aspek makroekonomi yang sangat mirip, seperti populasi yang besar dengan kesiapan teknologi yang tinggi.

Namun, berbeda dengan pasar yang lebih matang seperti Amerika Serikat (AS) atau Tiongkok, Indonesia belum memiliki ekosistem pendukung untuk perdagangan digital. Tantangan yang dihadapi pedagang Indonesia dalam menjalankan bisnisnya diperkirakan 3 kali lebih tinggi karena infrastruktur e-commerce yang terfragmentasi. Hal ini menjadi inti masalah yang ingin dipecahkan Desty.

Pada tahun 2020, Mulyono dan Co-Foundernya, Bill Wang, adalah eksekutif AliExpress di Indonesia dan Brasil ketika mereka memiliki satu visi sama untuk memajukan perdagangan Indonesia, dengan meluncurkan Desty dan mendapatkan pendanaan tahap awal. Setahun kemudian, Desty kembali memperoleh pendanaan pra-seri A dari East Ventures dan terus berkembang menjadi pembuat situs web social commerce yang memberikan fitur-fitur penting kepada penjual untuk mengkonsolidasikan dan menjalankan bisnis mereka.

“Untuk mengatasi tantangan infrastruktur yang masih terfragmentasi, Desty membangun solusi lengkap bagi penjual untuk mempromosikan dan menjual produk mereka. Kami sedang membangun platform terbuka agnostik yang terintegrasi ke dalam logistik, opsi pembayaran, pesanan hal-hal ini adalah kunci fundamental untuk bisnis apa pun,” kata Mulyono Xu, CEO dan Co-Founder Desty.

Mulyono bersyukur dan semakin terdorong begitu mengetahui bahwa solusi Desty dapat membantu banyak UMKM berintegrasi ke dalam perekonomian. Salah satu contohnya adalah Syambudi Yusuf, seorang pria paruh baya dari desa di sekitar kaki pegunungan Sidoarjo yang telah membuktikan aksesibilitas dan manfaat Desty. Syambudi tinggal di rumah atap anyaman tradisional dengan lampu tungsten tunggal dan menjalankan toko ibu dan anak.

Meski konektivitas di desanya masih terbatas, Syambudi mampu memanfaatkan Desty untuk mendukung dan meningkatkan mata pencahariannya. Syambudi menggunakan fitur pembayaran Desty Page sebagai pembayaran digital untuk bisnisnya dan menawarkan layanan pertukaran bagi penduduk desa yang ingin menukar saldo e-wallet mereka menjadi uang tunai. Hal ini menunjukkan bahwa Desty telah melayani penjual dari kota tier dua, seperti Bantul dan Tegal.

Desty mendukung proses 1-100 ekosistem penjual di Indonesia

Menurut laporan e-Conomy SEA 2021, sektor e-commerce Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 52% hingga mencapai US$ 53 miliar pada tahun 2021, dan diproyeksikan mencapai US$ 104 miliar pada tahun 2025. Hal ini lebih lanjut didukung oleh data dari NielsenIQ yang menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 88% dalam jumlah pembeli online di Indonesia dari 17 juta di tahun 2020 menjadi 32 juta di tahun 2021.

Sektor e-commerce didorong dengan banyaknya UMKM yang sudah go digital. Menurut laporan East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2022, telah terjadi peningkatan sebesar 39% dalam median penggunaan platform online dalam bisnis dari tahun sebelumnya. Bank Indonesia (BI) Indonesia mengungkapkan bahwa sekitar 17,25 juta UMKM telah go digital per Mei 2022, meningkat 115% dari tingkat pra-pandemi sebesar 8 juta.

Terlepas dari peran dan pertumbuhan yang signifikan, hanya 29% dari total UMKM Indonesia yang sudah memanfaatkan platform bisnis online. Rendahnya adopsi teknologi digital di kalangan UMKM di Indonesia terjadi karena sebagian besar masih menghadapi berbagai kendala dalam beralih ke digital. Dibandingkan dengan perusahaan besar, UMKM kekurangan sumber daya dan menghadapi kesulitan dalam mengadopsi dan beradaptasi dengan teknologi baru karena kurangnya literasi digital.

Pada akhirnya semua produk dan layanan Desty dibangun untuk membantu UMKM di berbagai lapisan untuk mengkonsolidasikan operasi digital mereka dari traffic, SKU, pesanan, obrolan, dan semua aspek relevan lainnya. Fitur-fitur akan tersedia dalam satu aplikasi super, dan produk-produk ini akan membuat perubahan besar untuk digitalisasi di seluruh Indonesia dengan menyerang berbagai lapisan titik kesulitan UKM dalam beralih ke digital.

Saat ini, Desty memiliki hampir satu juta penjual dan pengguna yang tersebar di seleuruh Indonesia. Mulyono optimistis bahwa akan semakin banyak pengguna, khususnya penjual yang memanfaatkan Desty sebagai infrastruktur digital untuk mendukung operasional dan strategi bisnis mereka.

Desty menunjukkan bahwa mereka akan memainkan peran penting dalam ekosistem digital yang lebih luas, karena mereka hadir dengan solusi baru yang belum diakomodasi oleh para pelaku e-commerce. Laporan EV-DCI 2022 mengidentifikasi dua langkah utama yang perlu diterapkan untuk mempertahankan pertumbuhan e-commerce—yaitu, mengadopsi strategi yang mengutamakan konsumen dan meningkatkan inklusi UMKM. Kedua strategi utama ini diterapkan di Desty.

Namun, Mulyono melihat beberapa tantangan dalam mengimplementasikan solusi Desty di Indonesia, yang terkait dengan infrastruktur digital: application programming interface (API) dan infrastruktur teknologi. Seiring dengan upaya pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan kemampuan e-commerce Indonesia, Desty mencatat bahwa masih ada kekurangan penawaran API untuk iklan di pasar e-commerce, yang akan membantu penjual menjalankan bisnis dengan lebih efisien. Desty menavigasi masalah ini dengan merencanakan roadmap produk mereka di masa yang akan datang untuk lebih mempersiapkan dan memaksimalkan sinergi dengan peningkatan sistematis kesiapan API.

“Jaringan 4G dan investasi venture capital ke dalam teknologi menandai ‘proses 0-1’ digitalisasi Indonesia. Kita sekarang memasuki ‘proses 1-100’ digitalisasi di mana dibutuhkan investasi yang lebih besar ke dalam Infrastruktur dan Sistem. Itu yang Desty lakukan, mengembangkan 1-100 ekosistem penjual,” tutup Mulyono.

Unduh laporan EV-DCI 2022 disini.