'Is ESG a FOMO or here to stay?': Avina Sugiarto

‘Apakah ESG akan terus menetap atau hanya sekedar sindrom FOMO (Fear of Missing Out)?’: Avina Sugiarto

22 Maret 2022

Dalam beberapa tahun terakhir, faktor Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST) atau Environmental, Social, and Governance (ESG) semakin menjadi perhatian utama bagi perusahaan, investor, dan pembuat kebijakan secara global. Investor dan perusahaan mulai ikut berkomitmen untuk menilai aspek non-keuangan sebagai bagian dari strategi bisnis, operasional, pelaporan, dan manajemen risiko. Selanjutnya, banyak perusahaan juga menyiapkan laporan keberlanjutan (sustainability) selain laporan tahunan, dan berjanji untuk mencapai nol emisi karbon (Net-zero emission atau NZE) di masa mendatang. Bagi saya, sebagai investor dan ibu dari dua anak, yang tinggal di Jakarta, meskipun kemajuannya positif, masih banyak lagi yang dapat komunitas kita lakukan dalam penerapan prinsip ESG dan dampak positif dalam praktik sehari-hari. 

Bagi banyak orang, ESG mungkin tampak sebagai istilah dasar yang kian menjadi perhatian atau bahkan sebuah metrik yang hanya dipantau untuk pemasaran, menarik investasi modal, dan menurunkan suku bunga pembiayaan bank. Hal-hal tersebut memang adalah manfaat yang dapat dinikmati sebuah perusahaan dengan menerapkan prinsip ESG dalam kebijakan investasi mereka, tapi nilai intrinsik dari ESG jauh melampaui jangka pendek.

Sebagai perusahaan modal ventura (venture capital), penciptaan nilai jangka panjang dan investasi di wirausahawan yang bertujuan mengembangkan solusi inovatif untuk pemecahan masalah di pasar potensial yang besar, sudah menjadi pusat dari hal yang kami lakukan. Selain dampak finansial, rasa senang ketika melihat dan merasakan dampak sosial dan lingkungannya, memberikan tingkat kepuasan tambahan bagi kami.

Di kawasan seperti Eropa dan Amerika Serikat, standar baru terkait penerapan dan regulasi prinsip-prinsip ESG terus berkembang. Menurut sebuah studi oleh Accenture, hampir sepertiga dari perusahaan terdaftar terbesar di Eropa telah berjanji untuk mencapai target nol bersih emisi karbon di tahun 2050. Komisi Eropa juga menyusun EU Taxonomy  sebagai pedoman untuk sektor keuangan menuju investasi berkelanjutan. Di Amerika Serikat, Securities and Exchange Commission (SEC) telah mendirikan Satuan Tugas ESG dan menjadikan pelaporan iklim & ESG sebagai prioritas.

Saya senang menyaksikan pemilik dan pengelola aset sebesar lebih dari 100 triliun dolar aset yang dikelola (Assets Under Management) ikut menandatangani Principles for Responsible Investment (UN PRI), sebuah inisiatif yang didukung PBB (UN), untuk secara terbuka menunjukkan komitmen terhadap investasi yang bertanggung jawab dengan mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial dalam kebijakan investasi mereka. Hal ini merupakan peningkatan, di mana terdapat peningkatan 26% dalam jumlah penandatangan PRI di satu tahun terakhir.

Gelombang ESG di Indonesia

Dibandingkan dengan AS dan negara-negara Eropa, adopsi ESG dan bisnis yang berfokus di keberlanjutan masih rendah di kawasan Asia Tenggara. Menurut Sustainable Development Report 2021, negara-negara tersebut tidak berada di peringkat 40 besar dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable  Development Goal atau SDGs) dari 165 negara.

Meskipun kebijakan dan integrasi ESG akan membutuhkan waktu untuk diadopsi secara lebih luas di kawasan Asia Tenggara, negara-negara terus meningkatkan komitmen mereka untuk mencapai dampak dan kinerja SDG yang lebih baik. Indonesia, sebagai presidensi G20, dengan tema “Recover Together, Recover Stronger” menonjolkan nilai keberlanjutan yang kuat dalam tiga topik utamanya; Reformasi Arsitektur Kesehatan Global, Transformasi Ekonomi Digital, dan Transisi Energi.

Demikian pula, banyak perusahaan mengadopsi praktik ESG dengan motivasi yang baik. Preferensi konsumen terhadap produk dan layanan yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial memungkinkan mereka untuk memenangkan kepercayaan pelanggan dan mendapatkan imbal “keberlanjutan”. Dengan transparansi dan tingkat keberadaan media sosial yang lebih tinggi, reputasi perusahaan akan lebih terlindungi dengan tata kelola yang baik dan manajemen risiko yang tepat. Selanjutnya, perusahaan akan menarik talenta berkualitas, yang kemudian akan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.

Pandemi COVID-19 telah meningkatkan kesadaran lingkungan dan perubahan iklim sebagai isu yang semakin mendesak. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia, suhu bumi tahun lalu sekitar 1 derajat Celcius lebih hangat daripada di abad ke-20. Oleh karena itu, beberapa kota berpenduduk padat, termasuk Jakarta, berisiko tenggelam pada tahun 2050. Negara kepulauan kita yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dan wilayah pesisir yang sangat luas akan sangat terdampak kenaikan permukaan laut.

Mengambil pengalaman yang lebih dekat, pengelolaan limbah, sebuah industri yang valuasinya diperkirakan mencapai multi-miliaran dolar, sering diabaikan. Saat ini, diperkirakan kurang dari 10% volume sampah berhasil didaur ulang dan volume sampah yang dikelola dengan baik hanya sekitar 50%. Lebih dari satu dekade yang lalu, ketika saya tinggal di AS, praktik memisahkan sampah menjadi sampah yang dapat didaur ulang dan organik adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada solusi dan startup untuk mengatasi masalah ini, tetapi mereka tidak dapat melakukannya sendiri, dan kita semua perlu bekerja sama, untuk meningkatkan kesadaran dan praktik dari rumah dan kehidupan kita masing-masing.

Perusahaan yang menangani perubahan iklim juga telah banyak berkembang. Perusahaan portofolio kami, Xurya, memungkinkan bisnis untuk menggunakan sumber energi terbarukan dari tenaga surya dengan modal awal minimum. Kami akan terus secara aktif mencari dan berinvestasi di perusahaan inovatif dan wirausahawan berkaliber tinggi dalam solusi teknologi iklim, termasuk energi terbarukan, pertanian cerdas (smart agriculture), ketersediaan makanan, kendaraan listrik, dan rantai nilai baterai.

Dalam mengimplementasikan kebijakan ESG, tidak dapat dihindari bahwa akan ada tantangan di sepanjang jalan. Masih ada prasangka bahwa mengadopsi prinsip-prinsip ESG akan meningkatkan biaya. Banyak yang frustasi dengan variasi standar ESG, seperti Carbon Disclosure Project (CDP), Climate Disclosure Standard Board (CDSB), Global Reporting Initiative (GRI), dan banyak lagi. Kemudian ada kekhawatiran mengenai greenwashing dan impact-washing dimana perusahaan melebih-lebihkan dampak lingkungan dan keberlanjutannya.

Terlepas dari semua tantangan ini, kami percaya mengintegrasikan ESG dalam operasional dan praktik bisnis adalah jalan yang harus ditempuh. Hal ini akan memberikan manfaat jangka panjang bagi perusahaan, termasuk kontribusi di efisiensi, memungkinkan perusahaan untuk tumbuh secara berkelanjutan, walaupun ada biaya jangka pendek.

Dalam mengatasi tantangan ini, semua pemangku kepentingan, mulai dari investor, pemerintah, perusahaan, organisasi, dan konsumen, perlu bergandengan tangan untuk mengembangkan dan mempromosikan praktik ESG dan solusi untuk tantangan yang mungkin timbul. Bagaimanapun, semua perjalanan dimulai dengan satu langkah.

Bagi kami, East Ventures berkomitmen untuk menjadi pemimpin dalam transformasi untuk mengukur metrik non-keuangan, dan memaksimalkan penciptaan nilai jangka panjang untuk meningkatkan standar hidup dan GDP per kapita di negara ini, serta mengurangi kesenjangan sosial, demi membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

Menurut saya pertanyaan yang perlu dibahas bukan apakah isu ESG ada untuk waktu yang lama, tapi bahwa memang ESG harus tetap dipelajari dan diusahakan, agar anak-cucu kita mewarisi kehidupan yang lebih baik selama ratusan tahun yang akan datang.

***

Oleh Avina Sugiarto, Venture Partner East Ventures

Artikel asli diterbitkan di Forbes Indonesia edisi Maret 2022: 30 Under 30, halaman 18.